Mulai Langka, Buah Kolang Kaling Semakin Diburu

58

NGAWI (lensamagetan.com)- Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah bagi siapa saja. Salah satunya adalah bagi penjual buah kolang kaling.
Meskipun buah kolang kaling sebenarnya bukan makanan pokok masyarakat, namun tiap kali Ramadhan tiba buah yang biasa untuk campuran es buah ini sagat diburu masayarakat.

Penerima berkah itu adalah Sumiati (60) pengolah dan pedagang kolang kaling, warga Dusun Celep, RT 02/RW 04, Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, Ngawi.

Ia mengaku kebanjiran order dari berbagai pedagang pasar setempat maupun daerah lain, namun akibat ketersediaan buah kolang kaling sangat terbatas membuat beberapa pedagang tidak terlayani karena kehabisan stok.

“Kalau puasa pasti permintaan pedagang dipasar meningkat, tapi karena jumlah buah kolang kaling saat ini terbatas dan sulit dicari maka yang saya utamakan pedagang lama dahulu. Dan harganya pun pasti naik dibanding hari-hari biasa,” kata Sumiati, Kamis (23/05/2019).

Dijelaskan Sumiati, harga buah kolang kaling dalam Ramadhan ini setiap 1 kilogramnya dihargai Rp 12 ribu, sedkit lebih mahal dibandingkan hari biasa yang hanya berkisar diangka Rp 9 ribu sampai Rp 10 ribu perkilogramnya.

Untuk memenuhi pesanan para pedagang yang sudah menjadi langgananya juga bukan perkara mudah. Hal itu disebabkan saat ini keberadaan buah yang berasal dari pohon aren tersebut mulai langka dan hanya ada kawasan hutan sekitar rumahnya.

“Kalau sepuluh tahun lalu mencari kolang kaling sangat mudah, bahkan sampai menolak. Sekarang sudah beda jauh, susah dicari. Kalau ada, harganya dari warga yang menjual sudah mahal,” ujar Sumiati.

Disamping itu dibeberkan Sumiati, untuk mengolah buah kaling kaling sampai mendapatkan biji berwarna putih juga bukan pekerjaan yang mudah. Banyak tahapan yang harus dilalui yang memerlukan waktu dan tenaga.

Yang pertama, buah kolang-kaling yang masih terbungkus direbus sekitar satu jam sampai warna kulit berubah menjadi hijau tua. Setelah itu, biji kolang-kaling berwarna putih cerah dikeluarkan dari bawah kulitnya.

Yang kedua, setelah biji berhasil dikeluarkan dengan cara dikupas satu persatu buahnya, lalu direndam dengan air beras untuk menghilangkan getah yang ada. Disebabkan susahnya mencari bahan baku Sumiati mengaku, setiap satu pekan sekali baru bisa menjual sekitar 30 kilogram sampai 50 kilogram.

“Karena bahan bakunya sulit sekarang satu minggu baru bisa menjual, karena harus menunggu terlebih dahulu agar buahnya terkumpul,” pungkasnya.(ton/pr)