Ketoprak DPRD Magetan dengan Lakon Tombak Kyai Bancak Meriahkan HUT Magetan Ke-347

Pegelaran kesenian ketoprak DPRD Magetan untuk memeriahkan Hari Jadi Magetan Ke -347.(Daniel/Lensa Magetan)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Memeriahkan Hari Jadi Kabupaten yang ke-347, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Magetan menggelar kesenian tradisional Ketoprak, Jumat (14/10/2022).

Bertempat di halaman kantor DPRD Kabupaten Magetan, pagelaran Ketoprak dengan lakon “Tombak Kyai Bancak” dihadiri oleh Wakil Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti beserta jajaran Forkopimda, segenap anggota DPRD, Kepala OPD, Forkopimca sekabupaten Magetan, Kepala Desa dan tamu undangan lainnya.

Dalam pagelaran ketoprak tersebut selain para seniman ketoprak yang tampil, juga diperankan oleh para anggota DPRD Magetan dan juga pegawai dari Sekretariat DPRD.

“Pagelaran kesenian ketoprak Ini juga untuk menggali sejarah Kabupaten Magetan. Malam ini kita mengambil lakon Tombak Kyai Bancak. Dimana lakon ini memiliki ikatan batin dengan Magetan sekaligus menceritakan sejarah berdirinya Kabupaten Magetan” kata Iswahjudi Yulianto, Sekretaris DPRD Kabupaten Magetan.

Ketua DPRD serahkan kentongan kepada salah satu anggota DPRD yang berperan dalam ketoprak sebagai tanda pagelaran ketoprak dimulai.(Daniel/Lensa Magetan)

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Ketua DPRD Kabupaten Magetan Sujatno menyampaikan, untuk ikut memeriahkan hari jadi Magetan yang ke 347, DPRD Kabupaten Magetan juga menggelar beberapa kegiatan diantaranya adalah kesenian ketoprak.

“Hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah bagi kita semua. Karena 347 tahun lalu, Kabupaten Magetan terbentuk dimulai dari Bupati pertama yaitu Bupati Yosonegoro dan sampai dengan tahun 2022 ini Kabupaten Magetan telah berdiri,” ujar Sujatno.

Untuk itu, lanjut Sujatno, semua masyarakat wajib bersyukur atas perjuangan para leluhur yang telah menjadikan Kabupaten Magetan menjadi berkembang hingga seperti saat ini.

“Semoga masyarakat Magetan makmur, maju, sejahtera tentunya kita mempunyai kewajiban untuk mendoakan para leluhur kita. Dan ini juga merupakan tantangan bagi kita semua dalam era globalisasi untuk selalu melestarikan kesenian khususnya kesenian tradisional,” pungkasnya.(niel/ton/adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *