Fenomena Menjelang Lebaran, Oknum Mengaku Wartawan Datangi Sekolah di Magetan Minta Uang dan THR

Ilustrasi beberapa oknum mengaku wartawan datangi Kepala Sekolah di Magetan.(Daniel/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Fenomena permintaan uang oleh oknum yang mengaku sebagai wartawan kembali meresahkan dunia pendidikan di Kabupaten Magetan. Menjelang Hari Raya Idulfitri, sejumlah kepala sekolah mengaku didatangi orang tak dikenal yang meminta uang dengan dalih kerja sama publikasi hingga Tunjangan Hari Raya (THR).

Salah satu kepala sekolah yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan, sekolahnya didatangi tiga orang dari luar daerah yang meminta uang dalam jumlah cukup besar.

“Datang 3 orang, per orang mintanya Rp 1,5 juta rupiah, la terus uang dari mana,” ujar salah satu kepala sekolah yang enggan disebutkan namanya demi keamanan.

Ia menuturkan, para oknum tersebut mengaku ingin menjalin kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU). Namun, proses yang ditawarkan tidak jelas dan justru meminta pihak sekolah untuk membuat sendiri dokumen kerja sama tersebut.

“Mereka itu minta MoU kerjasama, tapi mereka tidak buat MoU nya, malah suruh kita yang buat. Ya, saya gak mau, wong saya tidak butuh,” bebernya.

Setelah terjadi perdebatan, pihak sekolah akhirnya memberikan sejumlah uang sekadar sebagai biaya transportasi agar para tamu tersebut segera meninggalkan lokasi. Namun, karena tidak puas dengan nominal yang diberikan, para oknum tersebut diduga menuliskan pemberitaan negatif tentang sekolah tersebut di sebuah situs blog yang tidak jelas identitas redaksinya.

“Tulisanya itu tidak ada yang benar sama sekali, mengada-ada semua salah. Terus terang kita jadi males bertemu kalau seperti ini, ini membuat citra wartawan lain ikut tercoreng,” tegas kepala sekolah tersebut.

Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Wilayah Ponorogo–Magetan, Maskun, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan instruksi maupun rekomendasi kepada sekolah untuk memberikan uang kepada pihak mana pun.

“Kalau terkait THR, kalau memang mau memberi itu urusan pribadi, bukan urusan lembaga. Itu bersifat kemanusiaan. Tidak ada imbauan atau rekomendasi dari Cabang Dinas,” ujar Maskun, Jumat (6/3/2026).

Maskun juga menyayangkan praktik intimidasi yang mengatasnamakan media. Menurutnya, kerja sama dengan media seharusnya dilakukan secara profesional dan saling menguntungkan, bukan justru menjadi alat untuk menekan pihak sekolah.

“Namanya kerja sama kan saling menguntungkan. Tapi yang terjadi justru sekolah tidak mendapatkan keuntungan apa pun, malah diberitakan miring seperti tudingan pungli dan sebagainya,” tambahnya.

Selain itu, laporan serupa juga muncul dari sekolah lain yang mengaku didatangi belasan orang sekaligus yang meminta sejumlah uang dengan nominal bervariasi. Peristiwa tersebut bahkan sempat viral di media sosial karena dinilai meresahkan pihak sekolah.

Sebagai langkah antisipasi, Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur telah mengingatkan seluruh kepala sekolah agar lebih selektif dalam menerima tamu serta berhati-hati terhadap pihak-pihak yang mengatasnamakan lembaga tertentu.

“Kami sudah menyampaikan kepada kepala sekolah agar berhati-hati. Kami juga menjalin komunikasi dengan APH agar kondisi pendidikan di Magetan tetap kondusif,” tandasnya.(niel/red)

Tinggalkan Balasan