MAGETAN (Lensamagetan.com) – Perayaan Gebyar Milad ke-59 MIN 2 Magetan tidak hanya menjadi ajang seremoni internal, tetapi bertransformasi menjadi motor penggerak literasi dan penguatan ekonomi bagi masyarakat luas.
Puncak acara yang digelar pekan ini menjadi sorotan setelah madrasah tersebut berhasil meluncurkan buku antologi berjudul “Jejak Cinta di Bangku Madrasah” hasil karya para orang tua siswa, sebuah langkah konkret dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif di Kabupaten Magetan.
Keterlibatan ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat menunjukkan bahwa madrasah kini memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan kompetensi publik. Selain fokus pada perlombaan siswa RA/TK se-Distrik Kawedanan, acara ini memberikan dampak nyata pada peningkatan kualitas SDM melalui workshop mendongeng bagi guru-guru anak usia dini. Sinergi ini menciptakan standar baru dalam pola asuh dan pengajaran yang lebih kreatif di wilayah tersebut.
Plt Kepala MIN 2 Magetan, Miftahul Huda, S.Ag, M.Pd.I, bersama Team Pengembang Madrasah (TPM) menyatakan bahwa rangkaian kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan zaman melalui kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat umum.
“Gebyar Milad ke-59 ini menjadi bukti komitmen MIN 2 Magetan dalam menghadirkan pendidikan yang berprestasi, religius, dan literatif, sejalan dengan semangat zaman,” tegas Miftahul Huda dalam keterangannya, Minggu (16/2/2026).

Dampak dari perhelatan ini merambah ke sektor ekonomi dan penguatan karakter keluarga. Jalan sehat yang diikuti ribuan orang tidak hanya membagikan doorprize menarik seperti sepeda listrik hingga kambing, tetapi juga menghidupkan geliat ekonomi lokal di sekitar lingkungan madrasah. Di sisi lain, kegiatan religius seperti Sima’an Al-Qur’an bersama wali murid memperkokoh fondasi spiritual keluarga, yang menjadi modal utama dalam mencetak generasi muda yang tangguh.
Secara nasional, inisiatif MIN 2 Magetan dalam melibatkan wali murid untuk menulis buku merupakan langkah strategis untuk meningkatkan indeks literasi Indonesia yang masih menjadi tantangan besar. Ketika orang tua ikut aktif berkarya dan tidak hanya menjadi penonton dalam pendidikan anak, maka tercipta budaya literasi yang organik dari tingkat akar rumput. Model kolaborasi ini menjadi contoh penting bagi institusi pendidikan lain di Indonesia bahwa madrasah mampu menjadi agen perubahan sosial yang mampu mengangkat martabat literasi bangsa.(*)












