JAKARTA (Lensamagetan.com) – Peringatan Hari Nelayan Nasional setiap 6 April menjadi momentum refleksi terhadap peran strategis nelayan dalam menjaga ketahanan pangan dan ekonomi maritim Indonesia. Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Riyono, menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam memberikan perlindungan nyata bagi para nelayan.
Mengusung tema “Pangan Biru dan Nelayan Kuat, Indonesia Berdaulat”, Riyono menilai sektor kelautan memiliki peran vital sebagai sumber pangan berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi nasional.
Menurutnya, nelayan bukan sekadar pelaku ekonomi, tetapi juga penjaga kedaulatan pangan berbasis laut.
“Hari Nelayan Nasional harus menjadi momentum refleksi bersama. Nelayan adalah penjaga kedaulatan pangan laut kita. Negara wajib hadir melalui perlindungan, kepastian usaha, serta peningkatan kesejahteraan mereka,” ujar Riyono, Senin (6/4/2026).
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat jumlah nelayan Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 3,2 juta orang, yang mayoritas merupakan nelayan kecil dan tradisional. Sektor kelautan dan perikanan sendiri menyumbang sekitar 2,6 hingga 2,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2025.
Meski Indeks Nilai Tukar Nelayan (NTN) tahun 2025 berada di angka 103,86 dan mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, Riyono menilai kesejahteraan nelayan masih menghadapi berbagai tantangan.
Ia menyoroti persoalan klasik yang hingga kini masih dirasakan nelayan, mulai dari keterbatasan akses permodalan, fluktuasi harga hasil tangkapan, dampak perubahan iklim, hingga praktik illegal fishing yang merugikan nelayan lokal.
Sebagai Ketua Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan DPP PKS, Riyono mendorong pemerintah menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada nelayan kecil, termasuk kemudahan akses bahan bakar, subsidi alat tangkap ramah lingkungan, serta penguatan koperasi nelayan agar memiliki posisi tawar lebih baik di pasar.
Riyono juga menekankan pentingnya modernisasi sektor perikanan yang tetap inklusif.
“Modernisasi harus dibarengi peningkatan kapasitas sumber daya manusia nelayan, mulai pelatihan teknologi tangkap, pengolahan hasil laut hingga digitalisasi pemasaran agar nelayan semakin mandiri dan kompetitif,” tegasnya.
Selain aspek ekonomi, ia menilai perlindungan sosial bagi nelayan juga perlu diperkuat melalui jaminan asuransi kerja, perlindungan saat cuaca ekstrem, serta kepastian hukum wilayah tangkap.
Menurut Riyono, keberpihakan terhadap nelayan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan keberlanjutan sumber daya laut Indonesia.
“Nelayan harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dengan nelayan kuat dan ekosistem pangan biru yang sehat, Indonesia akan semakin berdaulat secara pangan maupun ekonomi maritim,” terangmya.
Peringatan Hari Nelayan Nasional diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat komitmen dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan.(niel/ton)












