Harmoni Kegelisahan di Sudut Angkringan Brawijaya, Kala Abon Jhon “Pulang” ke Magetan

Penampilan Abon Jhon di angkringan Brawijaya Magetan Jumat (23/1/2026) malam.(Daniel/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Wangi aroma kopi di Angkringan Brawijaya malam itu terasa berbeda. Jumat malam (23/1/2026), suasana riuh rendah khas tongkrongan mendadak berubah menjadi magis. Di bawah pendar lampu temaram, seorang pria dengan suara khas, menyihir puluhan pasang mata yang memadati sudut Kabupaten Magetan tersebut.

Ia adalah Abon Jhon, musisi independen yang tengah menuntaskan misi emosional bertajuk tur mandiri “7 Kota 7 Desa”. Bagi Abon, Magetan bukan sekadar titik pemberhentian biasa, kota ini adalah muara dari perjalanan panjangnya.

Dalam balutan acara yang dikemas sederhana namun intim oleh Gablux Enterprise, Abon Jhon membawakan materi dari mini album terbarunya. Bukan sekadar hiburan, lagu-lagu tersebut adalah kristalisasi dari refleksi dan kegelisahan personalnya sebagai seorang ayah.

“Ini murni proyek mandiri,” tutur Abon Jhon di sela penampilannya. “Awalnya saya menyiapkan album kedua bertajuk Serangan Balik. Namun, situasi sosial saat ini memicu saya menulis lima lagu baru yang lebih personal. Lagu-lagu inilah yang akhirnya saya bawa berkeliling,” ujarnya.

Meski liriknya tajam memotret kondisi sosial termasuk isu Raja Ampat yang sempat menarik perhatian sebuah NGO nasional, Abon menegaskan bahwa ia tidak sedang berpolitik.

Baginya, musik adalah ruang konstruktif untuk menyalurkan keresahan yang mungkin juga dirasakan oleh para bapak di luar sana.

Ada alasan mengapa atmosfer di Angkringan Brawijaya terasa begitu hangat. Magetan memiliki tempat spesial di hati sang musisi. Selain pernah menggelar konser album pertama di sini pada tahun 2022, kota kaki gunung ini adalah kampung halaman sang istri.

“Magetan ini spesial. Sudah seperti rumah sendiri,” ungkapnya dengan nada penuh rasa syukur.

Tur “7 Kota 7 Desa” memang dirancang untuk meruntuhkan sekat antara musisi dan pendengar. Lewat konsep ini, ia ingin musiknya terdengar jujur dan dekat dengan realitas harian masyarakat, jauh dari kesan panggung megah yang berjarak.

Malam semakin larut, namun antusiasme penonton justru kian memuncak. Setiap bait lagu yang dibawakan seolah menjadi jembatan bagi para pengunjung untuk ikut bersuara atas kegelisahan yang sama.

Sukses menghipnotis warga Magetan, perjalanan Abon Jhon belum usai. Setelah Februari mendatang, ia dijadwalkan akan melanjutkan petualangan musiknya menyisir daerah-daerah lain hingga berakhir di Bali.

Magetan malam itu menjadi saksi bahwa musik independen tidak butuh panggung mewah untuk bisa “berbicara”. Di tangan musisi yang jujur, sebuah angkringan pun bisa berubah menjadi ruang refleksi yang paling jujur.(*)

Tinggalkan Balasan