Budaya  

Labuhan Sarangan Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda, Bupati Magetan Dorong Pariwisata Berkelanjutan

Prosesi Labuhan atau Larung Tumpeng yang sudah menjadi tradisi tahunan di Telaga Sarangan, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Magetan.(Daniel/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Tradisi Labuhan Sarangan kembali digelar oleh warga Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan serta Paguyuban Pelaku Usaha Sarangan. Kegiatan budaya tahunan ini menjadi simbol pelestarian tradisi leluhur sekaligus ritual bersih desa yang terus dijaga hingga kini.

Pelaksanaan Labuhan atau Larung Tumpeng Sarangan ini turut dihadiri Bupati Magetan Nanik Sumantri, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Magetan Joko Trihono, serta sejumlah perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Magetan.

Bupati Magetan Nanik Sumantri menyampaikan bahwa tradisi Labuhan Sarangan mengandung nilai-nilai luhur yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.

“Melalui Labuhan Sarangan ini kita diajarkan nilai spiritual, gotong royong, kebersamaan, serta kepedulian terhadap kelestarian alam dan manusia. Nilai-nilai ini harus terus kita jaga dan ditanamkan kepada generasi muda,” katanya, Jumat (16/1/2026).

Menurutnya, Labuhan Sarangan tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga tuntunan hidup bagi masyarakat. Selain sebagai warisan budaya, kegiatan ini memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan pariwisata budaya Kabupaten Magetan.

“Telaga Sarangan bukan hanya kebanggaan masyarakat Magetan, tetapi juga destinasi wisata yang sudah dikenal luas, baik di tingkat regional maupun nasional,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Magetan juga menyampaikan kabar gembira bahwa Labuhan Sarangan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Magetan, lanjut Nanik, berkomitmen menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama perekonomian daerah. Tradisi Labuhan Sarangan dinilai menjadi momentum penting dalam mempromosikan Magetan sebagai destinasi wisata unggulan yang berkarakter budaya dan berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Magetan, menggerakkan ekonomi masyarakat Sarangan, memberi ruang bagi seniman lokal, serta memperkuat rasa bangga terhadap kebudayaan daerah,” jelasnya.

Meski demikian, Bupati juga mengingatkan agar pengembangan pariwisata Magetan tetap sejalan dengan kelestarian lingkungan. Ia mengajak seluruh pelaku usaha dan masyarakat Sarangan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan.

“Layani wisatawan dengan ramah, jujur, dan bertanggung jawab. Terapkan prinsip Sapta Pesona, aman, tertib, dan nyaman, karena kepuasan wisatawan adalah kehormatan bagi kita semua,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Magetan Joko Trihono mengatakan bahwa Labuhan Sarangan merupakan tradisi adat masyarakat Sarangan yang sarat nilai budaya dari para leluhur.

“Tradisi ini sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sarangan sebelum dikemas dalam bentuk festival budaya seperti sekarang,” ujarnya.

Ia menambahkan, para maestro adat Labuhan Sarangan juga telah diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan ritual adat tersebut.

“Alhamdulillah, Labuhan Sarangan telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Harapan kami, tradisi ini terus lestari dan ke depan dapat masuk kalender event nasional sebagai kebanggaan Kabupaten Magetan,” pungkasnya.(niel/red)

Tinggalkan Balasan