BANTEN (Lensamagetan.com) – Industri manufaktur elektronik adalah salah satu bagian penting dalam rencana Making Indonesia 4.0.
Sektor ini penting karena menyediakan teknologi dasar yang digunakan oleh berbagai industri lainnya. Dengan populasi lebih dari 270 juta orang, Indonesia bukan hanya memiliki pasar yang luas, tetapi juga sedang berkembang menjadi tempat produksi yang strategis bagi merek internasional. Pertumbuhan sektor ini didorong oleh meningkatnya permintaan perangkat canggih, komputer, dan alat rumah tangga yang semakin terhubung dengan teknologi digital.
Pemerintah Indonesia secara aktif menarik investasi dari luar negeri melalui berbagai kebijakan insentif seperti pengurangan pajak sementara dan pengembalian pajak.
Tujuannya adalah untuk memperkuat industri secara menyeluruh, dari awal hingga akhir. Saat ini, pusat produksi elektronik terpusat di beberapa kawasan industri seperti Batam, Cikarang, dan Tangerang. Kawasan tersebut menjadi tempat pembuatan berbagai produk elektronik seperti ponsel, televisi LED, hingga komponen pasif yang diekspor ke berbagai negara di Asia dan Amerika.
Salah satu langkah penting dalam industri ini adalah kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Dengan kebijakan ini, produsen perangkat telekomunikasi wajib menggunakan komponen lokal dengan persentase tertentu atau melibatkan tenaga kerja lokal dalam proses produksi. Hal ini mendorong banyak merek ponsel pintar global untuk mendirikan pabrik produksi di Indonesia atau bekerja sama dengan perusahaan manufaktur lokal. Akibatnya, peluang kerja bagi tenaga ahli di bidang teknik dan perakitan meningkat pesat.
Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah ketergantungan pada impor komponen inti seperti chip semikonduktor dan panel layar.
Kebanyakan pabrik di Indonesia masih hanya berada di tahap perakitan akhir, bukan produksi komponen bernilai tambah tinggi. Hal ini membuat jaringan distribusi dalam negeri masih rentan terhadap perubahan harga global dan hambatan logistik internasional. Upaya membangun pabrik fabrikasi chip atau wafer semikonduktor menjadi tujuan jangka panjang yang terus diupayakan untuk memperkuat kemandirian industri.
Selain produk konsumen, industri elektronika Indonesia juga mulai merambah ke sektor otomotif, khususnya mobil listrik (EV).
Perubahan menuju transportasi hijau membutuhkan komponen elektronik yang kompleks, seperti sistem manajemen baterai (BMS), inverter, dan unit kontrol mesin. Dengan kekayaan sumber daya nikel yang dimiliki Indonesia, sinergi antara industri pertambangan dan manufaktur elektronik menjadi kunci untuk menjadikan Indonesia pusat produksi baterai dan komponen EV dunia.
Digitalisasi juga semakin merambah ke dalam proses produksi melalui penerapan Industrial Internet of Things (IIoT). Pabrik-pabrik elektronik di Indonesia mulai menerapkan otomasi dan robotika untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi produk. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam hal kontrol kualitas memungkinkan deteksi cacat produk lebih tepat dibandingkan cara manual. Perubahan menuju pabrik pintar (smart factory) ini menjadi keharusan agar produk Indonesia tetap kompetitif dalam pasar global yang terus berubah.
Dari segi sumber daya manusia, perubahan teknologi ini mengharuskan adanya peningkatan keterampilan atau upskilling.
Kurikulum di lembaga pendidikan vokasi dan universitas kini mulai disesuaikan dengan kebutuhan industri manufaktur modern. Kerja sama antara sektor swasta dan lembaga pendidikan sangat penting untuk memastikan lulusan memiliki kemampuan dalam bidang pemrograman, perawatan robot, dan pengelolaan data industri. Tanpa SDM yang berkualitas, teknologi canggih yang diimpor tidak akan bisa memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian nasional.
Ekspor produk elektronik Indonesia terus mengalami peningkatan, terutama ke pasar ASEAN dan Amerika Serikat.
Produk seperti printer, mesin cuci, dan alat penerangan listrik menjadi komoditas utama. Keanggotaan Indonesia dalam berbagai perjanjian perdagangan bebas (FTA) memberikan keuntungan berupa tarif yang kompetitif, sehingga produk buatan Indonesia bisa bersaing dengan produk dari negara manufaktur lainnya seperti Vietnam atau Thailand.
Ke depan, fokus pengembangan industri ini akan diarahkan pada pembangunan ekosistem riset dan pengembangan (R&D) di dalam negeri.
Pemerintah mendorong perusahaan untuk tidak hanya memproduksi, tetapi juga merancang desain produksi di Indonesia. Dengan adanya pusat penelitian dan pengembangan, inovasi produk dapat disesuaikan dengan karakteristik pasar lokal sekaligus menciptakan kekayaan intelektual milik bangsa Indonesia. Dengan demikian, citra industri Indonesia akan berubah dari sekadar “tukang rakit” menjadi pembuat teknologi.
Sebagai penutup, industri manufaktur elektronik merupakan salah satu mesin pertumbuhan yang sangat menjanjikan bagi ekonomi Indonesia di masa depan.
Meskipun masih menghadapi tantangan dalam hal kemandirian komponen inti, langkah menuju hilirisasi dan digitalisasi menunjukkan arah yang benar. Dengan sinergi kebijakan pemerintah yang konsisten, tersedianya tenaga kerja yang ahli, serta kemampuan adaptasi terhadap teknologi terbaru, Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat elektronik baru di kawasan Asia Pasifik.(*)
Nama : Muhamad Rizki Dwi Putra
Nim : 251010800900
Jurusan : Teknik industri
Kelas : 01TIDP011












