MAGETAN (Lensamagetan.com) – Dentuman kendang dan gemuruh gamelan mengalun di tepian Telaga Sarangan. Enam dadak merak berdiri gagah, menggambarkan kekuatan sekaligus keindahan warisan budaya Jawa Timur. Kesenian Reog Ponorogo Singo Mudo Gembong Lawu Sarangan berkolaborasi dengan Reog Ponorogo Gagrak Magetan, menyatu dalam rangkaian tradisi Larung Tumpeng Telaga Sarangan.
Beberapa penari dan pengrawit mengiringi pertunjukan yang berlangsung khidmat namun meriah. Setiap gerakan dadak merak, jathilan, hingga warok seakan menjadi bagian dari doa dan ungkapan syukur masyarakat Sarangan terhadap alam dan Sang Pencipta. Tradisi larung tumpeng pun terasa semakin sakral dengan hadirnya kesenian reog sebagai simbol kekuatan, kebersamaan, dan kearifan lokal.
Ratusan warga dan wisatawan tampak memadati area telaga. Mereka larut dalam pertunjukan yang tidak sekadar hiburan, melainkan juga ruang perjumpaan antara budaya, masyarakat, dan alam Sarangan yang sejuk.
Pengurus Komunitas Reog Ponorogo Gagrak Magetan, Andri Agus Setiawan, menuturkan bahwa kolaborasi ini menjadi wujud nyata kepedulian pelaku seni terhadap pelestarian budaya.
“Reog hadir bukan hanya untuk ditampilkan, tetapi untuk menghidupkan tradisi. Larung Tumpeng Telaga Sarangan menjadi ruang budaya yang tepat bagi reog untuk menyatu dengan ritual adat masyarakat,” ungkapnya, Jumat (16/01/2026).
Andri menambahkan, keterlibatan reog dalam tradisi adat juga menjadi media edukasi bagi generasi muda agar mengenal dan mencintai warisan leluhur.
“Melalui momentum seperti ini, reog dikenalkan kepada generasi muda dan wisatawan sebagai identitas budaya yang harus dijaga bersama,” imbuhnya.
Kolaborasi dua kelompok reog ini sekaligus menegaskan bahwa kesenian tradisional memiliki peran penting dalam mendukung pariwisata budaya Magetan. Di tengah arus modernisasi, Reog Ponorogo tetap berdiri kokoh sebagai denyut budaya yang hidup, tumbuh, dan menyatu dengan kehidupan masyarakat Sarangan.(niel/red)












