MAGETAN (Lensamagetan.com) – Upaya menekan angka gangguan penglihatan pada pelajar terus digencarkan. Puluhan kepala sekolah SD dan SMP se-Kabupaten Magetan mengikuti sosialisasi deteksi dini screening kesehatan mata yang digelar di Aula Dikpora Magetan, hasil kolaborasi antara Yayasan Para Mitra Indonesia dan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Dikpora) Magetan, Selasa (3/3/2026).
Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugiyanti, mengatakan sosialisasi ini menyasar para kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan di satuan pendidikan.
“Sosialisasi hari ini adalah bagi kepala sekolah SD dan SMP yang gurunya mau kita latih. Kita latih apa? Kita latih keterampilan bagaimana melakukan deteksi dini screening pada siswa dengan cara yang sederhana. Jadi tidak seperti medis, ini sangat sederhana dan sudah menjadi standar Kemenkes dan juga WHO,” jelasnya.
Ia menegaskan, pelibatan kepala sekolah menjadi kunci keberhasilan program. Berdasarkan pengalaman tahap pertama, pelatihan guru tanpa sosialisasi kepada kepala sekolah kerap menemui kendala dukungan.
“Karena kepala sekolah ini pengambil kebijakan dan keputusan. Tantangan tahap pertama, ketika guru dilatih tanpa sosialisasi kepala sekolah, ternyata banyak yang tidak didukung. Wajar, karena kepala sekolahnya belum tahu,” ungkapnya.
Menurut Asiah, metode screening yang diberikan memang sederhana dan bisa dilakukan guru setelah pelatihan. Hasil deteksi awal nantinya tetap akan dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan.
“Selanjutnya akan dirujuk ke Puskesmas. Pihak Puskesmas yang akan mendeteksi ulang, itu tugas medis,” tegasnya.
Program ini, lanjutnya, tidak berhenti pada pelatihan satu guru saja. Kepala sekolah diharapkan mampu mengembangkan menjadi program berkelanjutan di sekolah, mulai dari pelatihan berjenjang antar guru, pengkaderan siswa, hingga mekanisme rujukan ke Puskesmas maupun optik yang tertib.
Sementara itu, Kepala Dikpora Magetan, Suwata, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan mata peserta didik jenjang SD dan SMP di Kabupaten Magetan.
“Hari ini kita ada sosialisasi tentang kesehatan mata kerja sama dengan Yayasan Paramitra Indonesia. Alhamdulillah, ini bentuk kepedulian kepada kesehatan mata anak-anak kita,” ujarnya.
Suwata memaparkan, berdasarkan hasil sampling akhir 2025 terhadap sekitar 14.800 siswa, ditemukan hampir 10 persen atau sekitar 1.400 siswa mengalami masalah kesehatan mata.
“Ada yang masih sekadar kabur, tapi ada yang minusnya sampai lima. Nah, ini tidak bisa dibiarkan,” tegasnya.
Untuk itu, Dikpora memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan Bagian Kesra, agar penanganan bisa lebih cepat dan terstruktur. Gangguan penglihatan, menurutnya, sangat berpengaruh terhadap kualitas belajar siswa.
“Belajar itu identik dengan baca tulis. Ketika penglihatannya bermasalah, tentu berdampak pada penurunan kualitas belajarnya,” katanya.
Ke depan, edukasi akan diperkuat melalui peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Guru-guru UKS akan diberi pembekalan agar mampu melakukan edukasi dan pemeriksaan dini minimal enam bulan sekali.
“Kalau ada kasus, segera dilaporkan dan akan difasilitasi lewat Puskesmas dan RSUD,” tambahnya.
Sebagai langkah penguatan gerakan, program deteksi dini kesehatan mata melalui UKS ini rencananya akan diluncurkan secara resmi oleh Bupati Magetan di Pendopo Kabupaten Magetan dalam waktu dekat.(niel/red)












