Mengerucut ke Tiga Nama, Siapa Nahkoda Baru PKB Magetan Periode 2026-2031?

Ketua DPC PKB Magetan, Suratno saat dikonfirmasi awak media usai Muscab PKB Magetan.(Anton/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Suasana di Joglo Kondang Ayem, Sabtu (4/4/2026), terasa berbeda. Di bawah bangunan kayu yang kokoh, masa depan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Magetan sedang dipertaruhkan.

Musyawarah Cabang (Muscab) yang digelar bukan sekadar seremoni laporan pertanggungjawaban, melainkan babak baru dalam pencarian sosok “nahkoda” yang mampu membawa partai ini mengarungi tantangan politik hingga 2031.

Setelah sempat diramaikan oleh lima figur potensial, gelanggang pemilihan kini menyisakan tiga nama kuat: Suratno, Agus Dwi Wibowo, dan Riyin Nur Asiyah. Ketiganya bukan sekadar kader biasa; mereka adalah representasi dari dinamika internal yang sedang mencari titik temu melalui musyawarah mufakat.

Berbeda dengan mekanisme pemilihan langsung yang kerap memicu polarisasi, PKB memilih jalan yang lebih “akademis” dan terukur. Kursi ketua tak bisa diraih hanya dengan modal popularitas di forum Muscab.

Perwakilan DPP PKB, Rivqy Abdul Halim atau yang akrab disapa Gus Rivqy, menegaskan bahwa ketiga kandidat harus melewati “kawah candradimuka” berupa Uji Kompetensi Kelayakan (UKK).

“Tahapan seleksi sangat ketat. Tahap pertama akan dilaksanakan di perguruan tinggi negeri di Malang, kemudian berlanjut ke tahap kedua di tingkat DPP,” tegas Gus Rivqy.

Langkah ini menunjukkan pergeseran paradigma partai menuju profesionalisme. Calon ketua tidak hanya diuji loyalitasnya, tapi juga kapasitas intelektual dan manajerialnya dalam memimpin organisasi besar.

Menariknya, Muscab PKB kali ini justru menjadi panggung silaturahmi politik yang cair. Kehadiran jajaran elit dari PDIP, Demokrat, Golkar, PAN, PKS, NasDem, hingga Gerindra menjadi pemandangan yang menyejukkan. Di tengah tensi politik nasional, Magetan seolah memberi pesan bahwa kompetisi bisa berjalan berdampingan dengan harmoni.

Suratno, yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua DPC PKB Magetan, menekankan bahwa siapa pun yang terpilih nanti harus memiliki “tangan yang panjang” untuk merangkul semua elemen.

“PKB harus tetap terbuka dan diterima semua golongan. Kami membawa semangat pluralisme dan kebersamaan untuk kemajuan masyarakat Magetan,” ujar Suratno dengan nada optimistis.

Bagi Suratno, tantangan nyata pemimpin masa depan adalah menyinergikan kekuatan struktural partai dengan elemen non-struktural—mulai dari Badan Otonom (Banom), tokoh lintas agama, hingga akar rumput di lingkungan pesantren.

Proses panjang ini tidak akan berakhir di meja musyawarah hari ini. Setelah melewati serangkaian tes di Malang dan Jakarta, publik Magetan harus bersabar menanti siapa yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan.

Pengumuman dan penetapan ketua terpilih direncanakan menjadi “kado” spesial bagi partai. Jika sesuai jadwal, pelantikan akan digelar pada 23 Juli 2026, bertepatan dengan momentum sakral puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) PKB.

Siapa pun yang terpilih nanti, tugas besar sudah menanti: mengawal program pemerintah sekaligus menjaga marwah partai sebagai pelayan masyarakat di Bumi Magetan. Apakah Suratno akan melanjutkan estafetnya, ataukah muncul wajah baru yang membawa warna segar? Semua akan terjawab di ujung ujian kompetensi nanti.(ton/red)

Tinggalkan Balasan