Embung Sidowayah Capai 60 Persen, Harapan Petani Magetan Atasi Kekeringan

Kepala Desa Sidowayah, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Drs Suyatno bersama Pelaksana Pekerjaan CV Surya Galaxi.(Daniel/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Ancaman kekurangan air saat musim kemarau menjadi persoalan yang terus membayangi petani di Desa Sidowayah, Kabupaten Magetan. Embung yang dibangun dengan nilai kontrak Rp699 juta itu kini memasuki tahap ketiga dengan progres fisik sekitar 60 persen, membawa harapan baru bagi ratusan petani yang membutuhkan kepastian pengairan.

Berdasarkan papan informasi di lokasi proyek, pembangunan Embung Sidowayah memiliki nilai kontrak sebesar Rp699.048.000 dengan waktu pelaksanaan 120 hari kalender. Pekerjaan dilaksanakan oleh CV Surya Galaxy, sedangkan CV Cakra Tirta bertindak sebagai konsultan pengawas melalui proyek Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Magetan.

Kepala Desa Sidowayah, Drs Suyatno, mengatakan pembangunan embung menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat. Pasalnya, sebagian besar warga setempat menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Menurutnya, keberadaan embung tersebut diproyeksikan dapat mendukung pengairan sekitar 100 hektare lahan pertanian dengan penerima manfaat kurang lebih 250 petani.

“Yang utama, embung ini untuk pengairan pertanian. Setiap musim kemarau, sebagian sawah tidak bisa ditanami karena kekurangan air. Bahkan, petani yang mendapatkan giliran pengairan pun belum tentu bisa panen pada musim tanam kedua,” ujarnya.

Ia menjelaskan, upaya mengusulkan pembangunan embung telah dilakukan pemerintah desa sejak 2020. Sebelumnya, pemerintah desa sempat mengajukan bantuan sumur pompa, tetapi belum terealisasi. Usulan tersebut kemudian diarahkan pada pembangunan embung sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan air pertanian.

Sumber air embung direncanakan berasal dari Sungai Setono. Melalui pembangunan infrastruktur penampungan dan pengaturan aliran air, pasokan air diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan irigasi, khususnya ketika musim kemarau.

Drs Suyatno menegaskan, fungsi utama embung tetap diprioritaskan untuk mendukung sektor pertanian. Sementara itu, pemanfaatan kawasan untuk kegiatan masyarakat, seperti olahraga, dapat dipertimbangkan sebagai pengembangan tambahan pada masa mendatang.

“Respons masyarakat sangat positif. Mayoritas warga kami bekerja sebagai petani. Harapannya, keberadaan embung ini bisa membantu mengatasi kekurangan air sehingga lahan pertanian dapat dimanfaatkan lebih optimal,” tambahnya.

Sementara itu, Tri Susilo dari pihak pelaksana CV Surya Galaxy menjelaskan, pekerjaan tahap ketiga berfokus pada pembangunan struktur utama embung. Pekerjaan tersebut meliputi pintu air, bangunan pelimpah, serta konstruksi pendukung untuk mengatur aliran air masuk dan keluar.

Menurut Tri, proses penggalian dan penyiapan area konstruksi pada tahap awal membutuhkan waktu cukup lama. Kondisi tersebut membuat pelaksanaan pekerjaan harus disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan.

“Progres pekerjaan di lapangan sekitar 60 persen. Pada awalnya, proses penggalian dan penyiapan area bangunan membutuhkan waktu cukup lama. Pelaksanaan juga harus menyesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengerjaan konstruksi mengacu pada desain teknis yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, pekerjaan juga mendapatkan pengawasan dari konsultan serta pendampingan dinas terkait.

Salah satu material yang digunakan adalah beton siklop, yakni konstruksi beton yang dikombinasikan dengan batu berukuran besar. Penggunaan material tersebut mempertimbangkan kebutuhan kekuatan struktur sekaligus efisiensi biaya pembangunan.

Selain pembangunan pintu air dan bangunan pelimpah, pekerjaan juga mencakup penyiapan saluran untuk mengarahkan aliran air menuju embung. Sistem tersebut diperlukan untuk mengendalikan aliran air agar tidak meluap dan berpotensi menggerus lahan persawahan di sekitarnya.

Tri Susilo menyebut, penyelesaian Embung Sidowayah secara keseluruhan kemungkinan masih membutuhkan tahapan pembangunan lanjutan. Pelaksanaannya akan bergantung pada perencanaan pekerjaan berikutnya serta ketersediaan anggaran dari pemerintah daerah.

Pembangunan Embung Sidowayah diharapkan tidak hanya berakhir pada penyelesaian konstruksi fisik, tetapi juga benar-benar menjawab kebutuhan pengairan masyarakat.

Dengan potensi layanan sekitar 100 hektare lahan pertanian, embung ini diharapkan dapat membantu mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pertanian di Desa Sidowayah.

Namun, manfaat tersebut akan sangat bergantung pada ketersediaan sumber air, efektivitas sistem distribusi ke lahan pertanian, serta pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur setelah pembangunan selesai.

Selain itu, kejelasan tahapan pembangunan berikutnya menjadi hal penting, mengingat pihak pelaksana menyebut penyelesaian embung secara keseluruhan kemungkinan masih memerlukan pekerjaan lanjutan.

Karena itu, penyelesaian pekerjaan sesuai ketentuan kontrak, kualitas konstruksi, serta kejelasan rencana tindak lanjut perlu menjadi perhatian agar pembangunan yang telah berjalan dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Bagi para petani Sidowayah, harapan utamanya sederhana: ketersediaan air yang lebih terjamin sehingga lahan pertanian tetap produktif dan musim kemarau tidak lagi menjadi kendala utama dalam menentukan keberhasilan panen.(niel/red)

Tinggalkan Balasan