Menapak Jejak Leluhur Magetan, Riyono Caping Ziarah Makam Ki Mageti dan Gubernur Soerjo

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Riyono Caping saat ziarah makam ke Makam Ki Mageti.(Daniel/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Di balik perjalanan panjang Kabupaten Magetan, tersimpan kisah para leluhur yang telah meletakkan fondasi sejarah dan pembangunan daerah. Jejak pengabdian mereka tidak hanya hidup dalam catatan sejarah, tetapi juga melalui peninggalan yang hingga kini masih dapat dijumpai, salah satunya kompleks pemakaman tokoh-tokoh penting di Magetan.

Pada Minggu (18/10/2026), Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono Caping, menyempatkan diri berziarah ke sejumlah makam bersejarah di Kabupaten Magetan. Kunjungan tersebut menjadi momen untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus merefleksikan pentingnya menjaga warisan sejarah di tengah perkembangan zaman.

Perjalanan ziarah diawali dari makam Ki Mageti, sosok yang lekat dengan sejarah asal-usul Magetan. Dari sana, Riyono melanjutkan kunjungan ke kompleks makam Gubernur Soerjo, yang juga menjadi tempat peristirahatan lima mantan Bupati Magetan.

Bagi Riyono, ziarah bukan sekadar menjalankan tradisi. Ada pesan yang ingin disampaikan melalui kegiatan tersebut, yakni pentingnya menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap para tokoh yang telah berjasa bagi daerah.

“Tujuannya mengajak masyarakat untuk tetap ingat kepada para leluhur kita, beliau-beliau yang sudah berjasa membangun Magetan. Kita juga harus melestarikan budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang menghormati para leluhur,” ucap Riyono.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah daerah tidak semestinya membuat masyarakat melupakan sejarahnya. Di balik berbagai pembangunan yang dinikmati hari ini, terdapat perjalanan panjang, pemikiran, dan pengabdian orang-orang terdahulu yang turut membentuk wajah Magetan.

Mengenang para leluhur, menurut Riyono, tidak cukup hanya dengan berkunjung ke makam. Nilai-nilai kebaikan dan pengabdian mereka perlu diteladani, sementara doa menjadi bagian dari penghormatan kepada para pendahulu.

Ia berharap masyarakat tidak hanya memandang situs pemakaman bersejarah sebagai tempat untuk berziarah, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya yang patut dijaga keberadaannya.

Kepedulian terhadap sejarah tersebut juga diwujudkan melalui perhatian terhadap kondisi fisik kompleks pemakaman. Riyono berencana membantu mengganti pintu salah satu makam bupati serta pintu utama kompleks pemakaman, dengan tetap memperhatikan izin yang diperlukan.

“Insyaallah, jika diizinkan, nanti saya akan mengganti pintu salah satu makam bupati dan juga pintu depan atau pintu masuk. Ini sebagai bagian dari kepedulian kita sebagai masyarakat dan saya sebagai wakil Magetan di DPR RI,” tambahnya.

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Riyono Caping tengah ziarah ke Makam Gubernur Suryo Magetan.(Daniel/Lensamagetan.com)

Rencana tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap keberadaan situs sejarah. Sebab, pelestarian warisan leluhur tidak hanya berbicara tentang nilai yang terkandung di dalamnya, tetapi juga menyangkut bagaimana peninggalan tersebut dirawat agar tetap terjaga.

Disisi lain, memasuki peringatan Hari Jadi ke-351 Kabupaten Magetan, perhatian terhadap sejarah dan budaya lokal menjadi semakin relevan. Perjalanan lebih dari tiga abad tentu menyimpan banyak cerita yang membentuk identitas masyarakat hingga saat ini.

Riyono menilai, upaya nguri-uri atau melestarikan budaya Jawa perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Menurutnya, menjaga peninggalan sejarah merupakan salah satu langkah untuk mempertahankan identitas budaya sekaligus mendukung kemajuan daerah.

“Insyaallah, kita akan optimalkan. Salah satunya melalui upaya nguri-uri budaya Jawa dan sekaligus menjadi bagian dari upaya memajukan Magetan dengan segala potensi luar biasa yang dimiliki,” tandasnya.

Lebih dari sekadar bangunan atau kompleks pemakaman, makam Ki Mageti, Gubernur Soerjo, dan para mantan Bupati Magetan menyimpan nilai sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan daerah. Keberadaannya dapat menjadi pengingat bagi generasi sekarang bahwa Magetan tumbuh melalui proses panjang dan pengabdian banyak tokoh.

Karena itu, pelestarian situs bersejarah membutuhkan perhatian berkelanjutan. Tidak hanya melalui perawatan fisik, tetapi juga pendokumentasian sejarah, penyediaan informasi yang memadai, serta pengenalan kepada generasi muda agar mereka memahami arti penting warisan leluhur.

Peringatan Hari Jadi Magetan pada akhirnya bukan hanya tentang merayakan bertambahnya usia daerah. Lebih dari itu, momentum ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali akar sejarah, merawat identitas budaya, dan meneruskan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Sebab, daerah yang mampu melangkah menuju masa depan adalah daerah yang tidak melupakan sejarah yang membentuknya.(niel/red)

Tinggalkan Balasan