MAGETAN (Lensamagetan.com) – Suara merdu burung perkutut menjadi teman Budi Santoso di sela kesibukannya sebagai prajurit TNI. Dari lima pasang burung yang awalnya hanya dipelihara sebagai hobi, siapa sangka kini berkembang menjadi sekitar 200 pasang.
Bukan sekadar memenuhi halaman rumah dengan kandang burung, hobi tersebut perlahan berubah menjadi aktivitas produktif. Anakan perkutut mulai memiliki peminat, kandang terus bertambah, hingga akhirnya Budi melihat ada peluang ekonomi yang bisa dikembangkan bersama komunitas.
Budi Santoso merupakan Letnan Satu (Lettu) yang berdinas di Denjasa Wonoayu, Sidoarjo. Kesibukannya sebagai prajurit tidak membuat kecintaannya terhadap perkutut berhenti.
Justru di sela hari libur dan waktu istirahat, ia menemukan kesenangan dari aktivitas memelihara dan menggantang perkutut.
“Awal mula kami hobi itu memang sebelum masuk TNI juga sudah hobi. Setelah masuk TNI, kami lebih semangat dan hobi. Di momen hari libur atau hari istirahat, kita menggantang atau memelihara perkutut,” tutur Budi.
Berawal dari Lima Pasang perjalanan Budi di dunia perkutut bermula sederhana.
Ia awalnya hanya memiliki lima pasang. Tidak ada bayangan bahwa jumlah tersebut akan berkembang hingga ratusan pasang.
Budi kemudian mencoba beternak. Ketika anakan mulai bermunculan, ternyata banyak penghobi yang tertarik dan memesan.
Dari situlah ia mulai menambah kandang. Bahkan, kandang perkutut didatangkan dari Sidolaju, Ngawi.
“Awalnya kami beternak dulu. Itu cuma lima pasang. Akhirnya setelah kita ternak, anaknya banyak yang pesan. Otomatis kita menambah kandang perkutut,” ujarnya.
Perlahan, hobi tersebut berkembang menjadi sebuah siklus usaha.
Anakan yang dihasilkan sebagian dijual, sebagian lainnya dipertahankan untuk dikembangkan menjadi indukan. Hasil penjualan kemudian diputar kembali untuk kebutuhan pakan maupun pengembangan ternak.
“Dari penjualan lima pasang itu anakannya, yang separuh untuk makan, yang separuh bisa untuk income keluarga. Setelah itu kita tambah lagi. Anakan tetap kita ternak, semakin banyak,” jelasnya.
Kini, sekitar 200 pasang perkutut menjadi bagian dari aktivitas peternakan Budi.
Untuk kebutuhan pakan, sedikitnya dua karung berukuran 25 kilogram diperlukan setiap bulan. Dengan harga sekitar Rp250 ribu per karung, biaya pakan mencapai kurang lebih Rp500 ribu per bulan.
Namun, kebutuhan tersebut masih dapat diputar dari hasil penjualan anakan.
Budi bahkan mengaku sebagian anakan sudah memiliki pasar.
Salah satu pembeli yang selama ini menjadi bagian dari jaringan pemasaran berasal dari Surabaya dan berdomisili di wilayah Simo, Ngawi.
“Alhamdulillah untuk anakan sudah habis. Maksudnya belum menyimpan tapi sudah terjual,” katanya.
Dari Kandang Rumah, Merambah Komunitas. Bagi Budi, perkutut tidak hanya soal memelihara burung. Ada persaudaraan yang tumbuh di dalamnya.
Pertemuan dengan sesama penghobi membuat jaringan pertemanannya semakin luas. Ia bersama komunitas bahkan mengikuti berbagai latihan bersama atau latber di sejumlah daerah.
Tulungagung hingga Tuban menjadi bagian dari perjalanan komunitas tersebut. Penghobi dari berbagai wilayah Jawa Timur bertemu dalam satu kegiatan yang sama.
Dari situlah Budi semakin melihat besarnya potensi dunia perkutut.
Ia kemudian bersama rekan-rekannya mendorong keberadaan P4LSI (Persatuan Pelestari Pencinta Perkutut Lokal Seluruh Indonesia) di Kabupaten Magetan.
Perjalanan menuju terbentuknya P4LSI Magetan juga tidak sebentar.
Budi menyebut dirinya bersama sejumlah rekan membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk memperkenalkan komunitas kepada jaringan P4LSI dan membangun aktivitas yang diperlukan.
“Sudah empat tahun ini mau masuk P4LSI saja sementara susah, karena harus mengadakan latber dulu. Harus kita menggantang di luar daerah, seperti Surabaya, Pasuruan, Jember, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo dan sekitarnya,” ungkapnya.
Setelah komunitas semakin dikenal, mereka menyusun struktur organisasi dan SOP, kemudian berkomunikasi dengan Korda P4LSI Jawa Timur.
Kini kepengurusan P4LSI di Magetan telah terbentuk dengan pengurus yang berasal dari Magetan.
Tiket Ludes, Gantangan Ditambah
Besarnya antusiasme penghobi perkutut mulai terlihat ketika komunitas menggelar kegiatan latihan bersama.
Panitia awalnya hanya menyiapkan 60 gantangan. Namun jumlah tersebut ternyata cepat penuh. Akhirnya, gantangan ditambah 20 sehingga menjadi 80.
“Ini baru pertama, di luar dugaan. Rencananya itu 60, ternyata 60 sudah penuh. Ini nambah 20 lagi, jadi 80 gantangan,” kata Budi.
Antusiasme itu membuat Budi semakin yakin bahwa Magetan memiliki komunitas penghobi perkutut yang cukup potensial.
Salah satu rekan komunitas, Paijo Adipati, misalnya, memiliki total sekitar 58 ekor perkutut, dengan tujuh di antaranya disiapkan untuk gantangan.
Belasan tiket bahkan telah dipesan untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Bagi Budi, kondisi itu menjadi bukti bahwa ketika ruang bagi penghobi dibuka, komunitas akan bergerak dengan sendirinya.
Bukan Hanya Burung, Ekonomi Ikut Bergerak
Ada satu hal yang membuat Budi ingin kegiatan perkutut terus berkembang.
Menurutnya, setiap lomba atau event perkutut memiliki efek ekonomi yang lebih luas.
Bukan hanya pemilik burung yang datang. Pedagang pakan, pengrajin sangkar, pelaku UMKM hingga sektor penginapan bisa ikut mendapatkan manfaat ketika peserta datang dari berbagai daerah.
“Kalau memang ini diadakan, misalnya Bupati Cup, entah di alun-alun, stadion atau lapangan, itu nanti juga akan menambah income. Contohnya pedagang, UMKM otomatis banyak. Pengunjung dari daerah jauh biasanya menginap di hotel,” jelasnya.
Ketika jumlah penghobi bertambah, kebutuhan sangkar meningkat. Ketika lomba semakin sering digelar, kebutuhan pakan juga ikut meningkat.
“Pokoknya baku kait semua. Penjual masuk, sangkar masuk, yang jual pakan juga masuk,” imbuhnya.
Karena itu, Budi berharap event perkutut di Magetan tidak berhenti pada latihan bersama.
Menurutnya, latber dapat menjadi pintu masuk menuju latihan prestasi atau latpres yang skalanya lebih besar.
Bahkan, ia memiliki harapan agar suatu saat Magetan mampu menjadi lokasi event yang dihadiri penghobi dari berbagai wilayah di Indonesia.
HR Bird Farm, Rumah Kecil dengan Mimpi Besar
Di HR Bird Farm, Desa Ngelang, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan, aktivitas itu terus berjalan.
Kandang-kandang menjadi bagian dari keseharian Budi. Suara perkutut terdengar dari tempat yang menjadi rumah sekaligus ruang berkembangnya hobi tersebut.
Banner HR Bird Farm yang terpampang di lokasi mencantumkan alamat Desa Ngelang, Kecamatan Kartoharjo, Magetan.
Dari tempat inilah Budi mengembangkan ternak perkututnya.
Ia tidak ingin peternakan tersebut hanya berhenti sebagai usaha pribadi. Lebih jauh, ia ingin keberadaan peternak dan penghobi di Magetan semakin berkembang.
Harapan itu kemudian ia bawa dalam audiensi dengan sejumlah pihak di lingkungan Pemerintah Kabupaten Magetan.
Menurut Budi, respons yang diterimanya cukup positif. Sejumlah instansi disebut menunjukkan ketertarikan terhadap kegiatan peternakan maupun komunitas perkutut.
Ia juga sempat menyampaikan gagasan tersebut kepada Bupati Magetan.
Bagi Budi, dukungan pemerintah daerah akan semakin membuka peluang agar kegiatan perkutut bisa berkembang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
“Bupati juga bangga. Ternyata Magetan ada. Oh, P4LSI atau lomba perkutut itu begini? Efeknya mungkin UMKM, hotel, sangkar yang ada di Magetan, tempat pakan burung, pengrajin, itu akan terangkat semua,” katanya.
Hantu Rimba dan Sebuah Perjalanan
Di tempat itu pula tersimpan sejumlah piagam penghargaan dari perjalanan Budi mengikuti lomba perkutut.
Salah satunya berasal dari lomba di Sidolaju, Ngawi. Burung yang meraih juara tersebut memiliki nama Hantu Rimba.
Nama itu kemudian menjadi bagian dari cerita perjalanan Budi di dunia perkutut.
Namun baginya, menjadi juara bukanlah satu-satunya tujuan.
Ada sesuatu yang lebih besar yang ingin dibangun: peternak yang berkembang, komunitas yang solid dan kegiatan yang mampu memberi dampak bagi masyarakat.
“Harapan saya karena perkutut ini juga baku kait. Adanya lomba perkutut berarti ada ternak. Otomatis saya sebagai peternak ingin mengangkat P4LSI di wilayah Magetan supaya berjalan, kompak, solid. Otomatis peternak wilayah Magetan ini akan berkembang,” tandasnya.
Dari lima pasang, kini menjadi sekitar 200 pasang. Dari sekadar hobi, tumbuh menjadi peternakan.
Dari kandang di rumah, berkembang menjadi jaringan pertemanan lintas daerah.
Dan dari suara kecil burung perkutut, Budi melihat sebuah peluang besar: bagaimana hobi masyarakat bisa tumbuh menjadi ekosistem yang menggerakkan peternak, pengrajin sangkar, pedagang, UMKM hingga sektor pariwisata di Magetan.
Di Desa Ngelang, perjalanan itu masih terus berlanjut. Di antara suara perkutut dan deretan kandang, sebuah mimpi tentang Magetan sebagai salah satu pusat komunitas perkutut perlahan mulai dibangun.(niel/red)












