Opini  

Gawai Boleh di Tangan, tetapi Tubuh Anak Tetap Harus Bergerak!

Ilustrasi: Keseimbangan Penggunaan Gawai dan Permainan Tradisional pada Anak.(Alika Fitriani Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surakarta/Lensamagetan.com)

Saat ini, anak-anak tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Gawai adalah perangkat teknologi yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, yang digunakan untuk belajar, berkomunikasi, mencari informasi, bermain, dan berbagai aktivitas lainnya. Mereka dengan mudah mengakses berbagai permainan dan informasi hanya melalui layar. Kondisi tersebut mengubah cara anak dalam memanfaatkan waktu luang dan berinteraksi dengan sesama.

Perkembangan teknologi memberi kemudahan bagi anak-anak dalam belajar dan mencari informasi. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan pengenalan budaya lokal. Permainan tradisional seperti petak umpet, egrang, bekel, gobak sodor, lompat tali, congklak, dan engklek bukan hanya untuk mengisi waktu luang, tetapi juga dapat digunakan dalam mengembangkan interaksi sosial, kerja sama, dan kreativitas. Dari perubahan tersebut, muncul pertanyaan penting: “Apakah anak tetap dapat aktif bergerak di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, bisa dilihat dari data penggunaan internet. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Susenas Maret 2024, sebanyak 74,88% anak usia 5-17 tahun telah mengakses internet. Sementara itu, data APJII tahun 2024 yang dikutip oleh Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan bahwa 94,4% anak usia 13–18 tahun telah terhubung atau mengakses internet dengan rata-rata penggunaan lebih dari lima jam sehari. Data tersebut sudah menunjukkan bahwa teknologi digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Oleh karena itu, penggunaan gawai harus diimbangi dengan aktivitas anak dalam bergerak, salah satunya melalui permainan tradisional.

Permainan tradisional adalah permainan yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu serta dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Permainan tradisional bukan hanya menjadi sarana untuk belajar, tetapi juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan perkembangan anak-anak. Banyak manfaat permainan tradisional yang mengharuskan anak bergerak secara aktif sehingga dapat membantu mengembangkan keterampilan motorik kasar dan motorik halus. Selain itu, aktivitas bermain tersebut meningkatkan koordinasi antara tangan dan mata, membantu anak dalam mengelola emosi, serta melatih keseimbangan dalam aktivitas fisik.

Banyak permainan tradisional yang masih dikenal hingga saat ini dengan cara bermain dan manfaat yang beragam. Misalnya, engklek cara bermainnya melompat menggunakan satu kaki pada kotak yang digambar di atas tanah. Permainan ini dapat melatih keseimbangan dan mengatur koordinasi tubuh. Gobak sodor cara bermainnya dilakukan oleh dua tim penjaga dan penyerang dengan tugas utama penyerang melintasi garis jaga tanpa tersentuh oleh tim penjaga. Permainan ini dapat melatih kerja sama tim dan kelincahan bergerak. Sementara itu, congklak dimainkan oleh dua orang menggunakan papan berlubang dengan biji-bijian atau batu. Permainan ini dapat melatih motorik halus dan kemampuan berhitung. Hal tersebut menunjukkan bahwa permainan sederhana yang dilakukan bersama dapat memberikan manfaat bagi perkembangan anak.

Selain memberikan manfaat untuk perkembangan anak, permainan tradisional juga dapat digunakan untuk menjaga kesehatan fisik. Permainan seperti lompat tali dan gobak sodor membuat anak-anak aktif bergerak sehingga tidak hanya duduk di depan layar. Aktivitas tersebut dapat membantu melatih keseimbangan, koordinasi tubuh, dan kelincahan.

Penggunaan gawai yang diimbangi dengan aktivitas fisik juga penting bagi kehidupan keseharian anak. Gawai dapat digunakan untuk belajar, berkomunikasi, dan mencari informasi, tetapi anak tetap membutuhkan waktu untuk bergerak dan berinteraksi. Permainan tradisional dapat menjadi pilihan kegiatan yang menyenangkan karena anak dapat melakukan aktivitas fisik sekaligus bermain bersama teman. Melalui kegiatan tersebut, anak tidak hanya mendapatkan manfaat bagi kesehatan, tetapi juga belajar bekerja sama.

Perkembangan teknologi dan pelestarian budaya tidak harus dipermasalahkan selama penggunaannya dilakukan secara seimbang. Gawai dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan mencari informasi, sedangkan permainan tradisional dapat menjadi sarana untuk mengenalkan budaya, meningkatkan aktivitas fisik anak, dan saling berinteraksi secara langsung. Anak-anak tetap dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa harus kehilangan kesempatan dalam mengetahui budaya lokal yang sudah ada. Kemajuan teknologi bukan menjadi masalah untuk anak aktif dalam bergerak. Perangkat digital tetap bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan, tetapi dengan bergerak di luar ruangan dapat membantu anak dalam meningkatkan perkembangan fisik dan mengembangkan kemampuan dalam berpikir. Oleh karena itu, orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan gawai secara bijak serta memberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik agar anak dapat tumbuh sehat dan aktif.(*)

Penulis : Alika Fitriani Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surakarta.

Tinggalkan Balasan