Opini  

Ketika Terapi Okupasi Membantu Anak Lebih Siap Berkomunikasi

Ilustrasi seorang anak yang sedang menyusun puzzle.(Lensamagetan.com/Ist)

Surakarta (Lensamagetan.com) – Bagi kebanyakan keluarga, mendengar balita memanggil “mama” atau “kakak” untuk pertama kalinya adalah momen yang begitu dinanti. Namun bagi salah satu keluarga, momen itu datang jauh lebih lambat. Hari demi hari berlalu, dan rumah mereka tetap sunyi tanpa celoteh khas anak kecil. Anak bungsunya sudah berusia tiga tahun, tetapi belum sepatah kata pun keluar dari mulutnya, dan ia tampak belum membedakan mamah, bapak, dan kakaknya, bahkan tak merespons panggilan.

Komentar orang sekitar sering terdengar menenangkan sekaligus menunda: “Santai aja, nanti juga bisa ngomong sendiri”. Kalimat semacam itu membuat hati lega, tetapi diam-diam menahan keluarga untuk segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, padahal kegelisahan di hati mereka sulit diabaikan.

Akhirnya orang tua membawa sang anak ke dokter tumbuh kembang, dan ia didiagnosis mengalami speech delay, yaitu keterlambatan bicara yang menjadi salah satu masalah tumbuh kembang paling umum pada anak usia dini. Dokter merekomendasikan terapi wicara sekaligus terapi okupasi (occupational therapy/OT), pendekatan yang awalnya terdengar asing. Keputusan itu tidak mudah, sebab orang tua bertanya-tanya: apakah ini soal pola asuh, atau terlalu sedikit stimulasi di rumah? Rasa bersalah itu sempat membayangi, padahal yang dibutuhkan adalah penanganan, bukan menyalahkan diri.

Semula keluarga mengira solusinya sederhana: anak dilatih bicara terus-menerus. Setelah beberapa sesi konsultasi, mereka memahami bahwa berbicara bergantung pada kemampuan lain, seperti memusatkan perhatian pada lawan bicara, tahan terhadap suara dan sentuhan, menirukan gerakan, serta bergantian dalam permainan. Tanpa kesiapan itu, latihan pengucapan sulit berjalan karena anak belum benar-benar terlibat dalam komunikasi. Artinya, kesiapan berkomunikasi perlu dibangun lebih dulu sebelum anak diminta menirukan kata. Penyebab speech delay berbeda pada setiap anak. Pada anak yang tidak merespons panggilan, pemeriksaan pendengaran biasanya menjadi langkah awal yang penting, sehingga penilaian dokter dan tim terapi tetap diperlukan.

Terapi okupasi berfokus pada kemampuan anak menjalani aktivitas sehari-hari, dan bagi anak kecil aktivitas utamanya adalah bermain. Terapis menilai bagaimana anak mengolah rangsangan indra, memusatkan perhatian, dan mengoordinasikan tubuh serta tangan. Anak dengan speech delay kerap memiliki kesulitan penyerta, seperti koordinasi motorik yang kurang baik atau sensitivitas berlebihan terhadap suara dan tekstur. Hal ini tidak berlaku untuk semua anak, sehingga setiap anak perlu dinilai secara individual, dan penilaian itulah yang menjadi dasar kegiatan terapi.

Terapis wicara berfokus langsung pada bunyi, kosakata, dan bahasa. Terapis okupasi bekerja dari “belakang panggung”, membantu anak tenang, fokus, dan terlibat dalam aktivitas bersama sehingga latihan terapis wicara lebih mudah diterima.

Kasus ini jauh dari langka. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat pada 2023 bahwa prevalensi speech delay pada anak prasekolah di Indonesia berkisar 5 hingga 8 persen, dan di beberapa wilayah perkotaan seperti Jakarta dilaporkan bisa mencapai 21 persen. Kementerian Kesehatan RI juga pernah mencatat sekitar 11,55 persen balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan bahasa. Angka ini menunjukkan keluarga tersebut tidak sendirian, dan jawaban “nanti juga bisa sendiri” terlalu berisiko dijadikan pegangan.

Faktor yang kerap dikaitkan dengan meningkatnya kasus masa kini adalah berkurangnya interaksi langsung dan penggunaan gawai berlebihan. Di keluarga ini, gawai dibatasi sejak awal dan digantikan dengan bermain bersama. Hubungan ini bukan sebab tunggal, tetapi layak dipertimbangkan, sebab interaksi langsung memberi anak lebih banyak kesempatan mendengar dan membalas.

Perjalanan terapi tidak instan. Selama dua tahun mereka rutin menjalani terapi okupasi setiap minggu, dibarengi terapi wicara, dan mengulang latihan di rumah setiap hari, sehingga keluarga berperan sebagai “co-terapis”. Pendekatan bermain ini punya dasar yang masuk akal: sebuah kegiatan pendampingan di panti asuhan di Kediri melaporkan skor kemampuan bicara anak usia tiga tahun naik dari 42 menjadi 68 poin setelah lima minggu terapi berbasis permainan edukatif. Temuan itu berskala kecil dan menggunakan pendekatan terapi wicara, sehingga tidak membuktikan bahwa terapi okupasi saja yang berperan, tetapi menunjukkan bahwa bermain yang terarah dapat menjadi sarana belajar bahasa yang efektif.

Ruang terapi okupasi dipenuhi mainan bertekstur, ayunan sensorik, balok susun, dan nyanyian bersama. Semua tampak seperti bermain, padahal di baliknya ada latihan koordinasi tangan-mata, pengaturan respons terhadap rangsangan, dan penjagaan perhatian. Di rumah, pola serupa ditiru dengan bermain sambil menyebut nama benda dan anggota keluarga. Pelan-pelan ia menoleh saat namanya dipanggil, hingga menunjuk kakaknya sambil mengucap satu suku kata yang dinanti-nantikan. Momen kecil itu terasa seperti hadiah indah setelah penantian yang panjang.

Kini, dua tahun kemudian, anak itu berbicara dengan lancar dan cerewet menceritakan hal-hal kecil, dan keluarga menikmati setiap kalimatnya. Sulit memastikan apa yang paling berjasa: terapi okupasi, terapi wicara, stimulasi di rumah, atau bertambahnya usia. Kemungkinan besar semuanya bekerja bersamaan, dan itulah inti kolaborasi.

Speech delay perlu dilihat sebagai urusan tim, bukan urusan satu terapi. Terapi wicara melatih bahasa, terapi okupasi menyiapkan anak terlibat dalam komunikasi, dan keluarga menghubungkan keduanya dalam keseharian. Terapi okupasi bukan solusi instan dan bukan pengganti terapi wicara, tetapi jembatan yang menguatkan fondasi sebelum kata terucap. Karena itu, ketika ada anak yang terlambat bicara, jangan hanya menunggu, dan jangan hanya bertanya kapan ia bisa berbicara. Mulailah dengan bertanya apakah ia sudah siap untuk berkomunikasi.

Daftar Pustaka

Alomedika. (2022). Terapi Okupasi pada Anak dengan Speech Delay — Rehabilitasi Medik Ask the Expert. Diakses dari https://www.alomedika.com/komunitas/topic/terapi-okupasi-pada-anak-dengan-speech-delay-ask-the-expert

Halodoc. (2026). Panduan Terapi Anak Speech Delay Agar Cepat Bicara. Diakses dari https://www.halodoc.com/artikel/panduan-terapi-anak-speech-delay-agar-cepat-bicara

Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran (JIPP), Universitas Pendidikan Ganesha, Vol. 4, No. 3, Oktober 2020. Diakses dari https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JIPP/article/download/29190/17564

Kompasiana. (2023). Pengalaman Terapi Wicara dan Terapi Okupasi untuk Mengatasi Anak Speech Delay. Diakses dari https://www.kompasiana.com/rosdayanti/64cc7f3f4addee351270e5e2/pengalaman-terapi-wicara-dan-terapi-okupasi-untuk-mengatasi-anak-speech-delay

Pusat Terapi Bermain. (2026). Terapi Okupasi untuk Anak Speech Delay: Ini 5 Jenisnya! Diakses dari https://pusatterapibermain.com/terapi-okupasi-untuk-anak-speech-delay/

Abdimas Pedagogi: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat. (2026). Peningkatan Kemampuan Bicara Anak Speech Delay Melalui Terapi Wicara Berbasis Permainan Edukatif. Universitas Negeri Malang. Diakses dari https://journal-fip.um.ac.id/index.php/pedagogi/article/view/3723

Seminar Nasional UAD. (2024). Studi Kasus Keterlambatan Berbicara (Speech Delay) pada Anak Usia Dini. Diakses dari https://seminar.uad.ac.id/index.php/semhasmengajar/article/viewFile/15232/4743

Jayanti, dkk. (2025). Peran Media Stimulasi terhadap Perkembangan Bahasa Anak dengan Speech Delay. Journal of Theory and Practice in Islamic Guidance and Counseling, Vol. 2, No. 2. Diakses dari https://ejournal.uit-lirboyo.ac.id/index.php/JurnalBKI/article/download/8401/2498/30160

Ayudya, I. (2026). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Speech Delay pada Anak Prasekolah. Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surabaya. Diakses dari https://repository.um-surabaya.ac.id/id/eprint/13505/2/Bab%20I_Intan%20Ayudya_20221660045.pdf

Jurnal Sajak, Universitas Islam Riau. (2025). Analisis Faktor yang Memengaruhi Speech Delay pada Anak Usia Dini di Era Digital. Diakses dari https://journal.uir.ac.id/index.php/sajak/article/download/22262/8338.

 

Penulis : Nazla Zahratulsita

Tinggalkan Balasan