Kasus Diabetes Melitus di Magetan Tinggi, Yayasan Para Mitra Indonesia Soroti Retinopati Diabetik

Yayasan Para Mitra Indonesia
Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugiyanti bersama perwakilan dari Dinkes Magetan dan Dokter Mata RSUD dr Sayidiman saat menggelar diskusi.(Daniel/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Tingginya kasus diabetes melitus (DM) di Kabupaten Magetan mulai menjadi perhatian serius berbagai pihak. Hal ini mengemuka dalam sebuah diskusi yang digelar dalam program I-SEE, yang mengangkat isu dampak lanjutan DM terhadap kesehatan mata, khususnya retinopati diabetik.

Direktur Yayasan Para Mitra Indonesia, Asiah Sugiyanti, mengungkapkan bahwa selama ini masih banyak penderita diabetes yang belum menyadari risiko komplikasi pada mata. Padahal, kondisi gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah di retina dan berujung pada kebutaan.

“Banyak temuan di Puskesmas menunjukkan tingginya kasus diabetes melitus. Namun, pemeriksaan lanjutan seperti deteksi retinopati diabetik belum tersedia secara optimal di tingkat layanan dasar,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Ia menjelaskan, retinopati diabetik terjadi akibat kerusakan pembuluh darah di retina yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan mata masih rendah.

“Biasanya masyarakat baru memeriksakan mata ketika sudah ada gangguan penglihatan. Padahal, bagi penderita diabetes, pemeriksaan mata seharusnya dilakukan secara rutin minimal satu tahun sekali,” jelas Asiah.

Dalam diskusi tersebut juga terungkap bahwa berdasarkan data surveillance Dinas Kesehatan, jumlah penderita diabetes di Magetan mencapai sekitar 3.000 kasus dalam satu kabupaten. Namun, data terkait jumlah kasus retinopati diabetik belum terpetakan secara jelas.

“Kalau data diabetes memang ada di Dinkes, tapi untuk diagnosa retinopati diabetik biasanya tercatat di rumah sakit. Di Puskesmas belum sampai pada tahap pemeriksaan tersebut,” tambahnya.

Keterbatasan alat dan fasilitas di Puskesmas menjadi salah satu kendala utama dalam deteksi dini komplikasi mata akibat diabetes. Saat ini, pemeriksaan retinopati diabetik membutuhkan alat khusus yang umumnya hanya tersedia di rumah sakit.

Melihat tren peningkatan kasus diabetes, Asiah mengingatkan pentingnya langkah preventif sejak dini. Ia menilai, tanpa intervensi yang serius, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan kasus gangguan penglihatan akibat diabetes berpotensi meningkat signifikan.
“Kalau tidak segera direspons, ke depan bisa terjadi lonjakan kasus retinopati diabetik. Ini yang perlu kita cegah bersama,” tegasnya.

Ia pun mendorong adanya penguatan edukasi kepada masyarakat agar lebih sadar terhadap risiko komplikasi diabetes, termasuk pentingnya pemeriksaan mata secara berkala.

“Harus ada ajakan yang masif, terutama bagi penderita diabetes, untuk segera memeriksakan mata ke dokter spesialis. Jangan menunggu sampai penglihatan terganggu,” pungkasnya.(niel/red)

Tinggalkan Balasan