MAGETAN (Lensamagetan.com) – Pipi merona seringkali dianggap sebagai tanda malu atau indikasi kulit sehat. Namun, masyarakat perlu waspada jika kemerahan tersebut tidak kunjung hilang, terasa perih, hingga muncul pembuluh darah halus. Kondisi ini bisa jadi bukan jerawat biasa, melainkan Rosacea.
Dalam rangka memperingati Rosacea Awareness Month yang jatuh pada bulan April, RSUD dr. Sayidiman Magetan menggelar penyuluhan kesehatan di ruang tunggu Poliklinik Rawat Jalan, Kamis (23/4/2026). Edukasi ini menghadirkan dr. Eddy Tjahyono, Sp.DV, dokter spesialis Dermatologi dan Venereologi sebagai narasumber utama.
Menurut dr. Eddy Tjahyono, Rosacea merupakan penyakit peradangan kulit kronis yang sering kali disalahpahami oleh masyarakat awam sebagai jerawat atau iritasi asam biasa.
“Meskipun terdengar asing di telinga masyarakat, Rosacea sebenarnya adalah penyakit lama. Perbedaannya dengan kemerahan akibat sinar matahari biasa adalah sifatnya yang menetap. Jika kemerahan biasa hilang setelah berteduh, pada pasien Rosacea, merahnya cenderung menetap dan tidak sembuh meski sudah lewat tiga bulan,” jelas dr. Eddy.

Penyakit ini secara statistik lebih banyak menyerang wanita, khususnya mereka yang berada dalam rentang usia produktif antara 35 hingga 45 tahun.
Rosacea ditandai dengan kemerahan di area sentral wajah seperti pipi, hidung, dagu, dan dahi. dr. Eddy memaparkan beberapa gejala spesifik yang perlu diwaspadai jika wajah tampak merah dalam jangka waktu lama.Muncul bintik-bintik namun berbeda secara medis dengan jerawat umumnya.Terlihatnya pelebaran pembuluh darah kecil di permukaan kulit wajah. Kulit terasa gatal, perih, hingga panas seperti terbakar dan pada stadium lanjut, dapat menyebabkan pembengkakan pada hidung (hidung membesar).
Meskipun penyebab pastinya belum diketahui secara absolut, dr. Eddy menyebutkan adanya peran infeksi parasit bernama Demodex serta beberapa faktor pemicu eksternal seperti makanan pedas, alkohol, stres, paparan sinar matahari, hingga aktivitas fisik yang terlalu berat.
Bagi penderita Rosacea, dr. Eddy menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis guna mendapatkan penanganan yang tepat. Pengobatan dapat berupa penggunaan skincare khusus untuk memperbaiki lapisan pelindung kulit (skin barrier), terapi oles (topikal), hingga tindakan laser sesuai anjuran medis.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat dihimbau untuk menghindari faktor pencetus (makanan pedas/panas). Menggunakan sunscreen secara rutin dan memilih produk perawatan kulit yang lembut dan menghindari kosmetik yang memicu iritasi.
“Tujuan penyuluhan ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat. Semakin cepat terdeteksi dan ditangani oleh dokter spesialis kulit, risiko kerusakan kulit yang lebih parah dapat dihindari,” pungkasnya.(ton/red)












