Sarapan Murah View Mewah, Gurihnya Nasi Pecel Daun Jati di Pojok Sirkuit Parang Magetan

Nasi Pecel Daun Bu Narti Jati di Pojok Utara Sirkuit Parang Magetan.(Anton/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Udara pagi di Sirkuit Parang, Kabupaten Magetan, selalu dinamis. Riuh rendah langkah kaki para pencinta olahraga, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia menjadi pemandangan rutin setiap akhir pekan dan hari libur nasional. Namun, di balik peluh warga yang berburu kebugaran, ada magnet lain yang tak kalah memikat di pojok utara sirkuit yakni aroma magis dari Nasi Pecel Pincuk Daun Jati.

Kuliner tradisional khas Mataraman ini menjadi “hadiah” yang paling dinanti warga usai lelah berjalan kaki atau joging. Adalah Bu Narti dan Bu Jum, dua perempuan asal Desa Tamanarum, Kecamatan Parang, yang menjadi dalang di balik ramainya kepulan asap kuliner pagi di sirkuit tersebut.

Nasi pecel buatan Bu Narti bukan sekadar pengisi perut kosong. Kekuatannya terletak pada keautentikan rasa dan penyajian. Menggunakan alas daun jati segar (pincuk), nasi hangat disiram sambal pecel dengan perpaduan rasa pedas-manis yang pas di lidah.

Sebagai pelengkap, hadir tempe goreng dan bakwan hangat asli buatanya sendiri yang renyah. Berapa harganya? Sangat ramah di kantong.

“Satu porsi nasi pecel pincuk daun jati ini hanya dihargai Rp5.000. Sementara untuk gorengannya, pengunjung cukup membayar Rp1.000 per biji,” ujar Narti saat ditemui di lapaknya, Kamis (28/5/2026).

Sensasi menyantap pecel ini kian sempurna karena disandingkan dengan racikan kopi rumahan yang mantap. Sembari mengunyah, mata pengunjung akan dimanjakan oleh kemegahan Gunung Blego yang berdiri gagah di sisi selatan sirkuit. Kombinasi kuliner murah meriah dan pemandangan alam ciamik inilah yang membuat lapak sederhana ini selalu dirubung pembeli.

Bagi Anda yang penasaran, kuliner ini tergolong “pemberhentian berburu” yang mengandalkan momentum. Bu Narti dan Bu Jum tidak membuka lapak mereka setiap hari.

“Jam 5 pagi saya sudah di sini mas, tapi kalau pas hari libur saja, tanggal merah, atau hari Sabtu dan Minggu. Kalau yang olahraga sudah sepi, kita juga langsung tutup. Di rumah saya tidak jualan, hanya di sini,” kata Narti.

Sinergi kedua perempuan paruh baya ini begitu apik. Jika Bu Narti fokus meracik pecel andalannya, Bu Jum berada di sisinya untuk memastikan kebutuhan hidrasi para pelari terpenuhi dengan menyediakan minuman mineral dan kebutuhan logistik lainnya.

Di balik potensinya sebagai pusat olahraga dan kuliner pagi, Sirkuit Parang Magetan rupanya masih menyimpan “pekerjaan rumah” yang cukup mengganggu. Berdasarkan pantauan di lapangan, sirkuit ini masih sangat minim fasilitas vital, terutama toilet umum.

Ketiadaan fasilitas sanitasi ini memicu perilaku sebagian pengunjung yang nekat buang air kecil sembarangan. Dampaknya, di beberapa titik lokasi sirkuit tercium bau menyengat yang mengganggu kenyamanan warga saat joging maupun saat hendak menikmati kuliner pecel pincuk daun jati.

Warga dan penikmat sirkuit berharap pihak terkait segera melengkapi fasilitas penunjang ini. Tujuannya jelas, agar aktivitas olahraga makin nyaman, dan geliat ekonomi lokal seperti yang dijajakan Bu Narti dan pedagang lainya bisa tumbuh semakin subur.(ton/red)

Tinggalkan Balasan