Opini  

Ziarah Membawa Berkah

Muries Subiyantoro Guru BK SMPN 1 Magetan, Pegiat Demokrasi, Penggagas LoGoPoRI, Anggota IKPNI dan juga Keluarga Pahlawan Nasional R.M.T.A. Soerjo.(Foto : Muries Subiyantoro for Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Tidak ada angin tidak ada hujan, ketika Minggu pagi sekitar jam 07.00 tiba-tiba HP berdering mendapat telepon dari salah satu kawan jurnalis lokal Magetan yang memberi informasi bahwa nanti jam 09.00 akan ada ada kunjungan ziarah dari Kang Riyono Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi-PKS ke Kompleks Makam Kerto Sasono Mulyo Magetan dan meminta saya menemani sekaligus memandu terkait prosedur tata cara ziarah sekaligus menceritakan latar belakang sejarah yang ada di makam milik keluarga.

Menjelang jam 09.00 saya bersama paman saya Pak Sukamto juru kunci makam sudah bersiap di makam untuk menerima kedatangan Kang Riyono. Menunggu kurang lebih 15 menit, Kang Riyono didampingi staf beserta rombongan kawan-kawan jurnalis datang ke makam. Dengan hangat saya menyambut kedatangannya dan menyampaikan terima kasih sudah berkenan datang untuk berziarah.

Sebelum berziarah, saya menyampaikan apakah hanya akan berziarah di Makam Gubernur Soerjo saja atau juga di makam yang lain, karena memang di kompleks makam Kerto Sasono Mulyo ini terdapat 5 (lima) makam Bupati Magetan berturut-turut dari Trah Ndalem Ngeksipurno. Diawali dari Makam Eyang Kertonegoro, Surodiningrat III, Kertohadinegoro/Gusti Lider, Hadiwinoto, dan Soerjo. Saya menyampaikan jika berkenan ziarah kesemuanya, maka protap keluarga sejak dahulu kala berziarah di makam eyang yang paling sepuh dulu terus berurutan sampai dengan yang terakhir. Akhirnya Kang Riyono berkenan ziarah ke semuanya.

Diawali ziarah ke Makam Eyang Kertonegoro, mantan Bupati Purwodadi dan setelah Perjanjian Sepreh tahun 1830 pernah diangkat menjadi Bupati Ngawi dan dipindahtugaskan menjadi Bupati Magetan. Makam Eyang Kertonegoro biasa disebut dengan makam “pundung” karena memang diatas nisan makam tumbuh gundukan tanah yang terlihat seperti rumah rayap, namun tanah gundukan ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan hingga sekarang gundukannya semakin tinggi dan banyak. Dilanjutkan ziarah ke Makam Eyang Surodiningrat III yang notabene adalah putra mantu Eyang Kertonegoro. Surodiningrat III ini sebelum menjadi Bupati Magetan pernah menjabat sebagai Bupati di Ponorogo.

Kang Riyono meneruskan ziarahnya ke Makam Eyang Kertohadinegoro atau orang Magetan sering menyebutnya dengan nama Gusti Lider, bupati “sabdo pandito ratu” atau bupati “idu geni”. Di nisan makam Eyang Kertohadinegoro terdapat tulisan dalam bahasa Belanda yang maknanya adalah gelar kebangsawanan yang diberikan oleh Kerajaan Belanda pada waktu itu. Dan di tanah Jawa ini hanya terdapat 9 bupati yang mendapat gelar Leader/Rider dari Kerajaan Belanda, termasuk Bupati Magetan Eyang Kertohadinegoro.

Sebelum meninggalkan makam Eyang Kertohadinegoro, Kang Riyono melihat gawang pintu dan daun pintu makam mengalami kerusakan di sebagian tempat. Dengan spontan Kang Ri menyampaikan apakah boleh jika diperbaiki, maka saya menjawab menunggu dulu persetujuan dari keluarga besar yang ada di Magetan.

Setelah itu melanjutkan ziarah ke makam Eyang Hadiwinoto & Gubernur Soerjo. Di makam Eyang Soerjo saya beri ulasan agak panjang terkait tahun kematian di nisan makam yang “kontroversial”. Yang seharusnya Gubernur Soerjo wafat di tahun 1948, tetapi di nisan makam ditulis tahun 1947. Hal ini memang menarik untuk dikaji lebih dalam, karena terbukti sudah ada kajian ilmiah dari Mahasiswi Sejarah Unesa yang menulis skripsi tentang Kontroversi Kematian Gubernur Soerjo Tahun 1948. Saya menyampaikan ke Kang Riyono bahwa pada saatnya nanti memang semua pihak harus bisa duduk bersama untuk meluruskan sejarah yang ada.

Setelah selesai ziarah Kang Riyono juga sempat melihat daun pintu masuk utama makam yang juga mengalami kerusakan. Dan menyampaikan jika berkenan dan diberi ijin keluarga akan mengganti pintu dengan yang baru agar terlihat lebih rapi, kuat dan indah.

Sebelum pulang kami sempat foto bersama-sama di depan Makam Pahlawan Nasional Gubernur Soerjo dan sebelum meninggalkan area makam, saya atas nama pribadi dan keluarga menyampaikan terima kasih serta apresiasi setinggi-tingginya atas kehadiran ziarah Kang Riyono sekaligus permintaan untuk meminta ijin kepada keluarga jika diperkenankan akan merestorasi pintu makam Eyang Lider dan mengganti pintu utama masuk makam

Peristiwa ziarah kali ini mengingatkan saya pada peristiwa beberapa tahun lalu, ketika Almarhum Mas Kusnadi Ketua DPRD Jatim pernah berkunjung ziarah ke makam Kerto Sasono Mulyo. Setelah ziarah beliau menyampaikan apa yang bisa saya bantu untuk makam, lalu saya dan keluarga menyampaikan jika berkenan lahan di depan makam Gubernur Soerjo yang masih dalam kondisi tanah pasir bisa di paving sehingga akan kelihatan indah, bersih dan rapi. Apalagi setiap tahunnya akan menjadi tempat upacara ziarah Gubernur menjelang peringatan HUT Provinsi Jatim. Dan ternyata pavingisasi itu dilakukan serta jejaknya masih terlihat sampai sekarang.

Saya akhirnya teringat pada pesan almarhum eyang dan budhe-budhe sepuh dahulu, “Ries nek wis wayahe teko lak teko dewe, tapi nek durung wayahe teko diapak-apakne ora bakal teko, nek wis wayahe teko masio meneng lak bakal teko dewe”.

 

Oleh : Muries Subiyantoro

Sekretaris Pokmas Makam Kerto Sasono Mulyo Magetan

Tinggalkan Balasan