Efektivitas Tamor-Go Sebagai Bio-Koagulan Organik Berbasis Biji Asam Jawa dan Biji Kelor dalam Pengolahan Limbah Cair Industri

Foto bersama Tiftazani Abril Alrosydan (Kiri), Muhamad Ilyas Alfarisi (Kanan) bersama Rinto Sri W. guru Bahasa Indonesia (Tengah).(Ist/Lensamagetan.com)

Abstrak

Limbah cair industri tahu umumnya mengandung polutan organik tinggi yang berpotensi merusak ekosistem perairan dan mengganggu kesehatan manusia jika dibuang tanpa pengolahan. Penggunaan koagulan kimia komersial seperti tawas secara masif terbukti memicu efek samping berupa pengendapan toksik dan penurunan pH air secara drastis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan TAMOR-GO, sebuah inovasi bio-koagulan organik ramah lingkungan berbasis kombinasi biji kelor (Moringa oleifera) dan biji asam jawa (Tamarindus indica) dengan rasio 1:2. Metode penelitian meliputi sortasi, penyangraian biji asam jawa, penghalusan menggunakan grinder hingga homogen, serta solubilisasi dengan air bersih sebelum diaplikasikan pada sampel limbah cair tahu. Hasil pengujian empris menunjukkan bahwa TAMOR-GO secara efektif memperbaiki parameter fisik limbah melalui pembentukan flok secara bertahap (sedimentasi) dan mereduksi intensitas bau masam menyengat menjadi lebih samar. Berdasarkan analisis Laboratorium Instrumen SMKN 3 Madiun, serbuk TAMOR-GO mengandung Kalsium (Ca) sebesar 0,2013 mg/L yang berperan aktif sebagai jembatan kation dalam destabilisasi koloid. Secara kuantitatif, aplikasi bio-koagulan ini terbukti menurunkan kadar Biological Oxygen Demand (BOD) dari 4.726 mg/L menjadi 4.619 mg/L serta Chemical Oxygen Demand (COD) dari 8.704 mg/L menjadi 8.640 mg/L. Hasil ini menegaskan potensi TAMOR-GO sebagai solusi alternatif pengolahan air limbah yang aman, ekonomis, dan berkelanjutan.

 

Kata Kunci: Bio-koagulan, Limbah Cair Tahu, Biji Kelor, Biji Asam Jawa, TAMOR-GO.

 

1. PENDAHULUAN

Air limbah industri umumnya mengandung berbagai bahan kimia, logam berat, zat organik, maupun mikroorganisme berbahaya yang dapat menimbulkan dampak serius bagi lingkungan dan kesehatan jika tidak diolah (Artha Safety Indonesia, 2026). Secara lingkungan, pembuangan limbah tanpa pengolahan memicu pencemaran air permukaan, kerusakan ekosistem perairan akibat eutrofikasi, serta penurunan kualitas tanah. Bagi manusia, air yang terkontaminasi berisiko menimbulkan penyakit seperti diare, kolera, hingga akumulasi logam berat merugikan dalam tubuh yang merusak organ vital (Artha Safety Indonesia, 2026). Selain itu, dampak sosial ekonomi seperti penurunan produktivitas nelayan dan petani serta kelangkaan air bersih jangka panjang menjadi ancaman nyata jika pencemaran dibiarkan. Oleh karena itu, diperlukan solusi pengolahan limbah cair yang efektif, salah satunya melalui inovasi bio-koagulan organik TAMOR-GO.

Selama ini, proses koagulasi pada pengolahan limbah cair dan penjernihan air masih didominasi oleh penggunaan bahan kimia komersial seperti tawas atau aluminium sulfat [Al2(SO4)3] karena harganya yang murah (Hello Sehat, 2026; Green Chemicals Indonesia, 2026). Namun, penggunaan tawas secara masif menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan. Dari aspek kesehatan, paparan logam berat aluminium dalam jangka panjang terbukti memicu kerusakan jaringan organ detoksifikasi (hati dan ginjal), meningkatkan risiko patah tulang, serta berisiko menyebabkan gangguan pernapasan saat diaplikasikan karena bentuknya yang berupa bubuk (Hello Sehat, 2026; Green Chemicals Indonesia, 2026). Sementara dari aspek lingkungan, tawas bersifat korosif dan dapat menurunkan pH air secara drastis (Green Chemicals Indonesia, 2026). Selain itu, akumulasi endapan kimia dari tawas berpotensi menutupi dasar perairan dan merusak organisme serta biota di dalamnya (Green Chemicals Indonesia, 2026). Keterbatasan koagulan kimia konvensional ini mendasari urgensi pengembangan bio-koagulan organik TAMOR-GO berbahan dasar alami yang lebih aman, ramah lingkungan, dan ramah terhadap ekosistem.

Untuk mengatasi kelemahan koagulan kimia tersebut, inovasi bio-koagulan organik TAMOR-GO hadir sebagai solusi alternatif yang aman dan ramah lingkungan. TAMOR-GO memanfaatkan kombinasi biji kelor (Moringa oleifera) dan asam jawa (Tamarindus indica) yang kaya akan kandungan protein bermuatan positif serta zat flokulan alami. Komponen aktif ini bekerja efektif mengikat partikel koloid kotoran bermuatan negatif sekaligus menetralkan kadar keasaman (pH) pada limbah cair tanpa menghasilkan endapan kimia yang berbahaya bagi biota air. Melalui penelitian ini, diharapkan TAMOR-GO dapat menjadi produk pengolahan limbah cair industri yang bernilai ekonomis tinggi, mudah diterapkan, dan mampu mendukung keberlanjutan lingkungan hidup secara jangka panjang.

 

2. METODE PENELITIAN

2.1 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi blender/grinder komersial untuk menghaluskan bahan baku, timbangan digital dengan ketelitian tinggi untuk mengukur massa komponen, alat penumbuk manual, serta wadah pencampur. Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan bio-koagulan organik TAMOR-GO adalah biji kelor (Moringa oleifera) yang telah dikupas dan biji asam jawa (Tamarindus indica) yang telah dikupas. Sampel pengujian yang digunakan dalam riset ini adalah limbah cair industri tahu.

 

2.2 Prosedur Pembuatan TAMOR-GO

Prosedur pembuatan bubuk bio-koagulan TAMOR-GO dilakukan melalui beberapa tahapan sistematis sebagai berikut:

Sortasi Bahan: Tahap awal dimulai dengan memilah biji kelor dan biji asam jawa berkualitas baik serta membersihkannya dari kotoran fisik.

Pra-perlakuan Biji Asam Jawa: Karena karakteristik biji asam jawa yang sangat keras, dilakukan proses penyangraian (roasting) terlebih dahulu untuk mempermudah pelepasan kulit ari, dilanjutkan dengan pengupasan secara manual. Setelah dikupas, biji asam jawa ditumbuk secara manual hingga menjadi serpihan agak hancur guna mempermudah proses penghalusan berikutnya.

Pengupasan Biji Kelor: Biji kelor dikupas secara langsung dari cangkang luarnya tanpa melalui proses penyangraian untuk menjaga stabilitas kandungan protein aktif di dalamnya.

Penghalusan dan Formulasi Bubuk: Kedua bahan baku yang telah siap kemudian dimasukkan ke dalam blender/grinder untuk dihaluskan secara bersamaan hingga membentuk bubuk homogen yang halus. Formulasi perbandingan massa antara biji kelor dan biji asam jawa yang diterapkan didasarkan pada rasio 1:2 (setara dengan formula eksperimen awal 4:8).

Pembuatan Larutan Koagulan (Solubilisasi):Sebelum diaplikasikan ke dalam limbah, bubuk formulasi TAMOR-GO terlebih dahulu dilarutkan ke dalam sejumlah air bersih (air biasa). Proses pelarutan awal ini bertujuan untuk mengaktifkan zat protein dan flokulan alami di dalam bahan serta memastikan agen koagulan dapat tercampur secara merata (homogen) saat berinteraksi dengan komponen limbah.

Aplikasi pada Sampel Limbah: Setelah larutan koagulan siap, cairan tersebut dituangkan ke dalam sampel limbah cair tahu secara perlahan untuk memulai proses pengikatan partikel koloid.

 

2.3 Metode Pengujian

Bubuk formulasi TAMOR-GO yang telah jadi kemudian diaplikasikan langsung ke dalam sampel limbah cair tahu untuk menguji kemampuan koagulasinya dalam mengendapkan partikel tersuspensi serta menetralkan kondisi fisik-kimia air limbah tersebut sebelum dibuang.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Analisis Proses Koagulasi dan Pengendapan (Sedimentasi)

Berdasarkan hasil uji coba empris, pengaplikasian bubuk bio-koagulan organik TAMOR-GO ke dalam sampel limbah cair industri tahu menunjukkan efektivitas yang signifikan pada parameter fisik air. Pada awal pengujian, limbah cair tahu memiliki karakteristik visual yang sangat keruh dan pekat akibat tingginya kandungan padatan tersuspensi (Total Suspended Solids) dari sisa proses produksi tahu.

Setelah formulasi TAMOR-GO dimasukkan, terjadi fenomena destabilisasi partikel koloid di dalam limbah. Secara visual, ampas dan partikel mikro padat di dalam air limbah perlahan-lahan mulai saling mengikat, membentuk flok (gumpalan), dan mengalami proses sedimentasi (penurunan ampas) ke dasar wadah secara bertahap namun konstan. Proses pengendapan yang berlangsung secara perlahan tapi pasti ini mengindikasikan bahwa kandungan protein bermuatan positif dari biji kelor (Moringa oleifera) sukses menetralkan muatan negatif partikel koloid limbah tahu, sementara zat pengikat dari biji asam jawa (Tamarindus indica) mempercepat pembentukan ukuran flok agar lebih mudah mengendap akibat gaya gravitasi.

3.2 Analisis Perubahan Intensitas Bau

Selain perbaikan pada tingkat kejernihan visual, penggunaan TAMOR-GO juga memberikan pengaruh positif terhadap reduksi aroma menyengat pada limbah tahu. Sebelum diberi perlakuan, sampel limbah memilki aroma khas asam-organik khas tahu yang sangat tajam akibat proses fermentasi zat organik. Setelah dilakukan proses koagulasi, intensitas aroma tersebut mengalami penurunan secara bertahap dan berubah menjadi lebih samar (mendekati netral/tawar). Hal ini terjadi karena sebagian besar senyawa organik volatil yang memicu bau busuk telah ikut terikat dan terperangkap di dalam endapan flok di dasar wadah, sehingga meminimalisir pencemaran udara di lingkungan sekitar.

3.3 Analisis Kuantitatif Komposisi Serbuk TAMOR-GO

Berdasarkan hasil uji laboratorium di Laboratorium Instrumen SMKN 3 Madiun (Surat Keterangan No: 400.14.5.3/1595/01.6.16.9/2026), serbuk formulasi biji asam jawa dan biji kelor memiliki kandungan Kalsium (Ca) sebesar 0,2013 mg/L. Keberadaan ion kalsium (Ca2+)berperan krusial dalam proses koagulasi kimia-fisika. Ion bermuatan positif ini berfungsi sebagai jembatan kation (cationic bridge) yang mengikat gugus bermuatan negatif pada partikel koloid limbah tahu. Hal ini mempercepat destabilisasi partikel sehingga makro-flok lebih cepat terbentuk dan mengendap secara gravitasi.

3.4 Efektivitas Penurunan Parameter Kimia Limbah Tahu (BOD dan COD)

Pengujian dampak aplikasi TAMOR-GO terhadap beban pencemaran kimia limbah cair tahu diukur melalui parameter Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD). Hasil analisis laboratorium menunjukkan tren penurunan sebagai berikut:

Biological Oxygen Demand (BOD): Mengalami penurunan dari kadar awal 4.726 mg/L menjadi 4.619 mg/L setelah diberi perlakuan.

Chemical Oxygen Demand (COD): Mengalami penurunan dari kadar awal 8.704 mg/L menjadi 8.640 mg/L setelah diberi perlakuan.

Penurunan nilai BOD dan COD ini membuktikan secara kuantitatif bahwa mekanisme adsorpsi dan koagulasi oleh TAMOR-GO berhasil mengikat sebagian senyawa organik terlarut di dalam limbah tahu ke dalam bentuk endapan. Meskipun penurunan pada fase pengujian awal ini belum terlalu signifikan, hasil ini memberikan indikasi positif bahwa bio-koagulan organik berpotensi besar mereduksi polutan kimia terlarut. Efektivitas ini dapat dioptimalkan lebih lanjut di masa mendatang melalui variasi waktu kontak (contact time) yang lebih lama atau penyesuaian dosis formulasi serbuk.

4. KESIMPULAN

Bio-koagulan organik TAMOR-GO yang memanfaatkan kombinasi biji kelor (Moringa oleifera) dan biji asam jawa (Tamarindus indica) terbukti efektif memperbaiki karakteristik fisik limbah cair industri tahu secara signifikan. Proses aplikasi menunjukkan terjadinya sedimentasi di mana partikel ampas terikat dan mengendap secara perlahan namun pasti, serta mampu menyamarkan aroma masam menyengat khas limbah tahu menjadi lebih netral. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif Laboratorium Instrumen SMKN 3 Madiun, serbuk TAMOR-GO memiliki kandungan Kalsium (Ca) sebesar 0,2013 mg/L yang berfungsi sebagai jembatan kation untuk mempercepat pembentukan flok. Selain itu, penggunaan TAMOR-GO secara kuantitatif berhasil menurunkan beban pencemaran kimia pada limbah tahu, di mana nilai BOD turun dari 4.726 mg/L menjadi 4.619 mg/L dan nilai COD turun dari 8.704 mg/L menjadi 8.640 mg/L. Hasil ini menegaskan potensi besar TAMOR-GO sebagai alternatif bio-koagulan yang aman dan ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Artha Safety Indonesia. (2026). Bahaya Limbah Cair Jika Tidak Diolah dan Pentingnya Penanggung Jawab Operasional Pengolahan Air Limbah (POPAL). Artha Safety Indonesia.

Green Chemicals Indonesia. (2026). Dampak Penggunaan Kapur dan Tawas dalam Produk

Water Treatment. PT Green Chemicals Indonesia.

Hello Sehat. (2026). Apakah Tawas Aman untuk Air Minum? Ini Penjelasannya. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia / Hello Sehat.

Tinggalkan Balasan