MAGETAN (Lensamagetan.com) – Magetan menjadi ruang perjumpaan budaya Indonesia-Jepang. Halaman Perpustakaan Dbuku, Magetan, Kamis (17/9/2026) malam, berubah menjadi panggung terbuka ketika Teater Kaki Lima Puchi Mari Mari dari Jepang tampil di hadapan masyarakat.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pergelaran Handai Taulan. Warga dari berbagai kalangan, mulai pelajar, anak muda, komunitas hingga masyarakat usia lebih tua, tampak antusias menyaksikan penampilan kelompok teater asal Jepang tersebut.
Konsep pertunjukan yang dibawa Puchi Mari Mari juga membuat suasana berbeda. Tidak mengandalkan panggung besar, tata cahaya rumit maupun perangkat pertunjukan berskala besar, para pemain justru tampil dekat dengan penonton.
Kondisi tersebut membuat batas antara pemain dan penonton terasa lebih cair. Masyarakat tidak sekadar menjadi penonton, tetapi dapat merasakan secara langsung interaksi yang menjadi bagian dari karakter pertunjukan Teater Kaki Lima Puchi Mari Mari.
Anggota DPRD Jawa Timur Diana Sasa mengapresiasi kehadiran kelompok teater asal Jepang tersebut di Magetan. Menurutnya, pertunjukan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati seni sekaligus mengenal kebudayaan dari negara lain secara langsung.
“Terima kasih kepada teman-teman Teater Kaki Lima Puchi Mari Mari yang sudah datang ke Magetan dan menghadirkan pertunjukan yang sangat dekat dengan masyarakat. Saya juga mengapresiasi masyarakat yang malam ini datang dan ikut meramaikan,” ujar Diana.
Diana Sasa menilai antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa ruang kebudayaan masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Terlebih, penonton yang hadir berasal dari berbagai kelompok usia.
“Saya senang melihat masyarakat dari anak muda sampai yang lebih tua bisa berkumpul di sini. Artinya masih banyak masyarakat yang peduli terhadap kebudayaan dan terbuka untuk mengenal kebudayaan dari negara lain,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada satu pertunjukan. Menurutnya, pertemuan antara masyarakat dengan seniman dari negara lain dapat memberikan pengalaman baru sekaligus memperluas wawasan masyarakat terhadap keberagaman budaya.
Sementara itu, salah satu penonton, Lingga, mengaku mendapatkan pengalaman berbeda setelah menyaksikan pertunjukan tersebut. Baginya, melihat seniman Jepang tampil secara langsung di tengah masyarakat memberikan pengalaman yang tidak didapat ketika hanya mengenal kebudayaan Jepang melalui media.
“Ini pengalaman pertama saya melihat pertukaran budaya seperti ini, orang Jepang asli datang dan tampil langsung di tengah-tengah kita. Rasanya berbeda ketika kita melihat kebudayaan Jepang hanya dari media,” kata Lingga.
Ia berharap kegiatan dengan konsep yang dekat dengan masyarakat tersebut dapat terus digelar di Magetan.
“Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus ada dan berkembang. Kita bisa saling mengenal budaya, menjaga nilai budaya yang kita punya, sekaligus belajar dari budaya lain,” ujarnya.
Pertunjukan Puchi Mari Mari di Magetan merupakan bagian dari rangkaian pentas keliling di sejumlah wilayah Solo Raya dan Eks Karesidenan Madiun.
Dalam rangkaian tersebut, Kelompok Hidup berperan sebagai fasilitator sekaligus mitra produksi Pergelaran Handai Taulan.
Bagi masyarakat Magetan, kehadiran Puchi Mari Mari bukan sekadar tontonan seni. Pertunjukan tersebut menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, ketika masyarakat dapat bertemu langsung dengan seniman Jepang sekaligus membuka pengalaman baru melalui seni pertunjukan.(niel/red)












