Seragam Sekolah Tidak Wajib Beli di Koperasi, SMAN 1 Karas Utamakan Kemudahan Orang Tua

Nursamsi, Humas SMAN 1 Karas.(Daniel/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2026/2027 di SMAN 1 Karas masih menyisakan kuota, meski telah melalui tiga tahap pendaftaran.

Humas SMAN 1 Karas, Nursamsi menjelaskan, tahapan SPMB telah berjalan selama kurang lebih tiga pekan, dimulai dari jalur domisili, afirmasi, hingga prestasi akademik.

“Dari tiga tahap tersebut, jumlah peserta didik baru yang masuk sebanyak 280 siswa dari total kuota 324,” ujarnya.

Ia menambahkan, sesuai ketentuan, sekolah yang belum memenuhi kuota akan mengikuti tahap lanjutan berupa pemenuhan kuota yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026.

“Kami tetap optimistis kuota 324 siswa dapat terpenuhi melalui tahap pemenuhan kuota nanti. Mekanisme ini berlaku tidak hanya di SMAN 1 Karas, tetapi juga di sekolah lain di Jawa Timur yang kuotanya belum terpenuhi,” imbuhnya.

Menurutnya, salah satu faktor belum terpenuhinya kuota adalah kecenderungan lulusan SMP memilih melanjutkan ke SMK. Di wilayah Karas, banyak siswa memilih sekolah kejuruan seperti SMKN 2 Jiwan dengan pertimbangan peluang kerja setelah lulus.

“Persepsi sebagian orang tua memang setelah lulus SMK anak bisa langsung bekerja, sehingga minat ke SMA sedikit terpengaruh,” jelasnya.

Di sisi lain, salah satu wali murid, Tampi, mengaku memilih SMAN 1 Karas karena adanya program unggulan double track yang dinilai memberikan nilai tambah bagi siswa.

Terkait kebutuhan seragam, ia menyebut tidak ada kewajiban pembelian melalui sekolah. Sebagian seragam bahkan masih bisa digunakan dari milik kakak.

“Yang dibeli biasanya seragam khas sekolah seperti kotak-kotak dan olahraga. Kalau seragam abu-abu atau pramuka masih bisa pakai punya kakaknya,” ungkapnya.

Sementara itu, Komite SMAN 1 Karas, Mutakaliman, menilai sinergi antara pihak sekolah, komite, dan wali murid berjalan sangat baik dalam mendukung proses pendidikan.

“Kami melihat kinerja kepala sekolah, guru, dan wali murid sangat sinergis. Ini menjadi momentum baik dalam penerimaan siswa baru,” katanya.

Ia menegaskan, keberadaan koperasi sekolah hanya sebagai fasilitas untuk memudahkan kebutuhan siswa, bukan sebagai kewajiban.

“Sekolah menyiapkan kebutuhan seperti buku dan seragam melalui koperasi, tetapi tidak ada paksaan untuk membeli. Orang tua bebas menyesuaikan,” jelasnya.

Mutakaliman juga menekankan bahwa SMAN 1 Karas mengedepankan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, serta lingkungan pendidikan yang ramah bagi siswa.

“Intinya, SMA 1 Karas ini mengutamakan pendidikan yang ramah, berbasis iman dan takwa. Sinergi semua pihak menjadi kunci demi kemajuan pendidikan di Magetan,” pungkasnya.(niel/red)

Tinggalkan Balasan