MAGETAN (Lensamagetan.com) – Komitmen jangka panjang dalam pelestarian lingkungan kembali ditunjukkan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Melalui Tim Program Studi (Prodi) Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), UNS https://uns.ac.id mengimplementasikan strategi pengelolaan sampah berbasis riset (waste-to-value) di Bank Sampah Sapu Jagad (BSSJ) Magetan.
Kolaborasi yang telah menginjak usia 8 tahun ini berfokus pada edukasi lingkungan, penerapan teknologi pengolahan limbah organik domestik, serta penyerahan bantuan alat produksi untuk kerajinan bernilai ekonomi tinggi.
Dalam kunjungan tersebut, tim pakar dari FMIPA UNS turun langsung ke lokasi. Mereka adalah Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S., Dr. Agung Budiharjo, M.Si., Elisa Herawati, Ph.D., Dr. Tetri Widiyani, dan Dr. Shanti Listyawati.
Selama ini, Bank Sampah Sapu Jagad dikenal fokus mengelola sampah anorganik seperti plastik, kain, kertas, dan kaleng. Namun, menumpuknya sampah domestik atau sampah basah rumah tangga (sisa makanan, sayur, dan buah) di Magetan memerlukan solusi cepat, terlebih kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Magetan kian penuh.
Ketua Tim Riset Biologi FMIPA UNS, Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S., menjelaskan bahwa pihaknya membawa inovasi penguraian sampah organik memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau yang dikenal sebagai maggot.
“Kami ingin memberikan penjelasan terkait inovasi pengolahan sampah menggunakan materi hewan, yaitu larva BSF atau maggot. Sampah domestik rumah tangga bisa menjadi pakan maggot. Setelah berkembang, maggot ini memiliki kandungan protein yang sangat tinggi,” ujar Prof. Okid.
Lebih lanjut, Prof. Okid menambahkan bahwa maggot kering saat ini menjadi komoditas premium yang sangat dicari oleh produsen pakan ternak dan ikan.
Di pasar digital (marketplace), harga maggot kering berkisar antara Rp40.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Selain menghasilkan pakan kaya protein, sisa penguraian tersebut juga menghasilkan pupuk kasgot (bekas maggot) yang menyuburkan tanaman.
Inovasi ini diharapkan dapat membantu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan dalam menekan volume sampah yang masuk ke TPA.
“Harapan kita, Pak Juli selaku Ketua BSSJ bisa menggerakkan proses pengolahan sampah di Magetan menjadi lebih efisien. Kita tahu kapasitas TPA di sini sudah penuh, sementara lahan pemindahan belum siap. Peran aktif bank sampah seperti ini sangat bagus untuk membantu pengelolaan sampah kawasan,” tegas Prof. Okid.
Selain edukasi formula pakan ternak berbasis maggot, tim UNS juga memberikan bantuan fisik untuk mendukung lini bisnis kerajinan (eco-design) milik BSSJ yang memanfaatkan limbah anorganik.
Direktur Bank Sampah Sapu Jagad, Juli Kuswanto, S.H., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas pendampingan berkelanjutan yang diberikan oleh UNS.
“Alhamdulillah, hari ini kami dibantu kaki-kaki sofa botik (botol plastik) dan juga kain untuk cover sofanya. Bantuan ini tentu menjadi penambah semangat kami untuk terus berkarya memanfaatkan limbah,” ungkap Juli.
Juli mengisahkan bahwa hubungan erat antara BSSJ dan UNS berawal dari pertemuan yang tidak disengaja delapan tahun lalu. Kini, ia berharap sinergi ini terus berjalan konsisten demi memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan kelestarian alam.
“Semoga ke depan kita tetap bersinergi menjaga alam dan lingkungan dengan berbagai macam cara, sejalan dengan penerapan SDGs 12, 17 yaitu produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab melalui kemitraan dengan usaha masyarakat”,” pungkasnya.(ton/red)












