Dompet Dhuafa Bersama ROIS OJK Perkuat Kampung Susu Lawu, Dorong Peternak Makin Berdaya

Penyerahan dukungan zakat, infak, dan sedekah dari ROIS OJK bersama Dompet Dhuafa untuk penguatan Program Pemberdayaan Ekonomi Kampung Susu Lawu, di Gedung Pertemuan Kampung Susu Lawu, Singolangu, Sarangan, Magetan.(Daniel/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Kampung Susu Lawu di Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, kembali mendapat penguatan program pemberdayaan ekonomi. Dompet Dhuafa bersama Rohani Islam (ROIS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pemkab Magetan menggelontorkan dukungan program tahap awal senilai sekitar Rp1,1 miliar.

Program tersebut diarahkan untuk memulihkan sekaligus mengembangkan peternakan sapi perah yang sempat terdampak wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).

Selain penambahan sapi perah, dukungan juga menyasar penguatan pengolahan susu, fasilitas kafetaria, sarana UMKM, hingga pemasaran produk susu.

Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ahmad Juwaini, mengatakan program tersebut bukan program baru. Pemberdayaan Kampung Susu Lawu telah diinisiasi sejak 2020 dan kini kembali diperkuat.

“Ini bagian daripada program pemberdayaan ekonomi yang merupakan lanjutan dari program kita sebelumnya yang sudah kita inisiasi sejak tahun 2020 dengan Kampung Wisata Susu Lawu,” kata Ahmad, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, penguatan kali ini tidak hanya menyasar peternak. Dompet Dhuafa juga mendorong pengolahan susu hingga pengembangan fasilitas pendukung agar aktivitas ekonomi masyarakat semakin berkembang.

“Di sisi peternaknya, di sisi pengolahannya, kemudian juga penguatan untuk menjadi sarana kampung susunya dengan tambahan fasilitas kafe, dan juga menyiapkan pasar pemasarannya untuk menambah pemasaran di lokal,” ujarnya.

Ahmad menyebut perkembangan Kampung Susu Lawu sebelumnya cukup baik hingga 2024. Namun, wabah PMK membuat sebagian peternak harus memotong sapinya sehingga populasi sapi perah ikut menurun.

“Program ini untuk recover juga sebagian sapi yang sudah dipotong pada waktu itu karena PMK tersebut,” jelasnya.

Karena itu, penambahan sapi baru menjadi salah satu fokus program. Dompet Dhuafa berharap pemulihan tersebut dapat kembali meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan peternak.

Lebih lanjut, menurut Ahmad, persoalan Kampung Susu Lawu saat ini bukan semata soal pasar. Permintaan susu dari industri disebut sudah cukup besar.

Tantangannya justru bagaimana produksi ditingkatkan, kualitas dipertahankan, serta produk susu dikembangkan menjadi berbagai produk olahan.

“Bagaimana kita meningkatkan produksi lebih baik, kualitasnya juga terus terjaga, dan terus berinovasi di produk-produk olahan pascapanen susunya,” katanya.

Ia menilai pengolahan susu menjadi produk turunan akan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat dibandingkan hanya menjual susu segar.

“Bukan hanya menjual susu mentah, tapi kalau diolah lagi nilai tambah yang didapatkannya jadi lebih besar,” imbuhnya.

Selain sapi dan fasilitas kafetaria, program tersebut juga mencakup sarana pendukung bagi pelaku UMKM, termasuk sepeda listrik yang nantinya dapat digunakan untuk menjual susu segar.

Sementara itu, Kepala OJK Solo, Mohammad Mufid, mengatakan dukungan tersebut berasal dari Rohani Islam (ROIS) OJK yang menghimpun zakat, infak dan sedekah dari pegawai OJK. Dalam penyalurannya, ROIS OJK menggandeng Dompet Dhuafa sebagai mitra pemberdayaan masyarakat.

Mufid menegaskan program tersebut bukan sekadar bantuan yang habis digunakan, tetapi diharapkan menjadi pemicu agar masyarakat mampu berkembang secara mandiri.

“Tujuan kami bahwa program yang kami berikan itu sifatnya adalah bentuknya pancing. Jadi program yang memberdayakan dan bergulir,” katanya.

Ia berharap peternak di Kampung Susu Lawu dapat mandiri dalam waktu sekitar satu hingga dua tahun. Setelah itu, kemandirian tersebut diharapkan bisa memberikan dampak kepada masyarakat sekitar.

“Harapannya setelah ini, peternak di sini itu akan berdaya, mandiri. Setelah itu kemandirian itu akan menular kepada masyarakat sekitar,” ujarnya.

Ditempat yang sama, Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pengembangan peternakan sapi perah memang sangat dibutuhkan karena produksi susu di Magetan masih belum mencukupi kebutuhan pasar.

“Bantuan ini sangat dibutuhkan. Karena dari sisi potensinya, produk susu itu kurang sekali,” katanya.

Suyatni menyebut empat kecamatan di Magetan memiliki potensi untuk pengembangan sapi perah. Masyarakat dinilai mampu membudidayakan sapi perah dari skala rumah tangga.

“Magetan sangat masih butuh bibit-bibit sapi perah. Dan cocok! Di empat kecamatan ini terbukti cocok,” ujarnya.

Namun, trauma peternak akibat wabah PMK menjadi salah satu persoalan yang harus dipulihkan. Program pemberdayaan tersebut diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk kembali berinvestasi di sektor sapi perah.

“Sekurang-kurangnya program Dompet Dhuafa yang kedua ini menggugah lagi motivasi para peternak untuk kembali mau investasi lagi di sapi perah. Intinya cocok!” katanya.

Suyatni berharap dukungan serupa dapat kembali diberikan dengan cakupan yang lebih luas, tidak hanya di Kampung Susu Lawu.

“Semoga Dompet Dhuafa mau datang lagi berkali-kali lipat lagi untuk program serupa ini. Masih butuh lagi, bukan hanya di kampung ini, di empat kecamatan lain butuh ini,” harapnya.

Program tersebut diharapkan mampu mengembalikan populasi sapi perah yang terdampak PMK sekaligus mendorong Kampung Susu Lawu menjadi kawasan yang menggabungkan peternakan, pengolahan susu, UMKM dan agrowisata.(niel/red)

Tinggalkan Balasan