Minim Siswa Baru, Dua SMK Swasta di Magetan Resmi Tutup Tahun Ini

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Swasta Magetan, S. Agus Triyono, S.Pd, M.Si, M.H. (Daniel/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Kondisi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di Kabupaten Magetan saat ini dinilai tengah berada pada fase yang mengkhawatirkan. Ketimpangan jumlah peserta didik antara sekolah negeri dan swasta semakin tajam hingga berdampak pada penutupan sejumlah lembaga pendidikan.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Swasta Magetan, S. Agus Triyono, S.Pd, M.Si, M.H, menyampaikan bahwa persaingan penerimaan siswa baru antara sekolah negeri dan swasta sudah tidak lagi berjalan seimbang.

Menurutnya, sekolah negeri yang sejatinya sudah memiliki daya tarik kuat bagi calon siswa, kini justru semakin aktif melakukan promosi langsung ke tingkat SMP dan MTs, sehingga mempersempit peluang sekolah swasta memperoleh peserta didik.

“Perbandingannya sangat jomplang. Sekolah negeri tanpa promosi saja murid sudah datang. Sekarang negeri juga turun langsung ke SMP dan MTs melakukan promosi, tentu ini membuat sekolah swasta semakin berat,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Ia mengungkapkan, dampak ketimpangan tersebut sudah mulai terasa nyata. Pada Juli 2026 mendatang, dua SMK swasta di Magetan dipastikan berhenti beroperasi karena tidak memperoleh siswa baru.

Dua sekolah yang akan tutup yakni SMK PGRI Kawedanan dan SMK Sendang Kamal Maospati. Dengan kondisi tersebut, jumlah SMK swasta di Magetan yang sebelumnya mencapai 24 lembaga akan berkurang menjadi 22 sekolah.

Agus memprediksi jumlah itu masih berpotensi terus menyusut apabila tidak ada langkah strategis, baik dari internal sekolah swasta maupun dukungan kebijakan pemerintah.

“Kalau tidak segera ada pembenahan manajemen dan perhatian kebijakan, bukan tidak mungkin sekolah swasta akan terus berkurang,” jelasnya.

Persoalan ini, lanjut Agus, tidak hanya menyangkut keberlangsungan lembaga pendidikan, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan, khususnya nasib para guru yang kehilangan tempat mengajar ketika sekolah tutup.

Ia menilai hingga saat ini belum ada solusi konkret bagi tenaga pendidik terdampak penutupan sekolah.

“Guru-guru ini nanti harus ke mana? Mereka juga punya keluarga yang harus dinafkahi. Ini yang seharusnya menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi, MKKS SMK Swasta Magetan berupaya melakukan distribusi guru ke sekolah swasta lain yang masih membutuhkan tambahan jam mengajar sebagai bentuk solidaritas antar lembaga.

Agus juga mengingatkan seluruh pengelola sekolah swasta agar memperkuat manajemen serta membangun kebersamaan antar sekolah demi menjaga keberlangsungan pendidikan swasta di Magetan.

“Kalau sekolah swasta tidak pintar mengelola lembaga dan tidak ada kebersamaan, saya yakin jumlahnya akan terus berkurang dan satu per satu bisa tutup,” pungkasnya.(niel/ton)

Tinggalkan Balasan