Purna Tugas Setelah 39 Tahun Mengabdi, Suwata Tinggalkan Jejak Lewat Sebuah Buku

Suasana kebersamaan Suwata bersama para siswa dalam salah satu kegiatan di sekolah di Kabupaten Magetan selama masa pengabdiannya di dunia pendidikan.(Ist/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Tak banyak pejabat yang memilih meninggalkan jejak pengabdiannya dalam bentuk sebuah buku. Namun hal itu dilakukan Suwata, yang tepat pada Selasa (30/6/2026) resmi menuntaskan pengabdian selama 39 tahun sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Magetan.

Memasuki Rabu (1/7/2026), kursi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Magetan yang selama ini ditempatinya mulai ditinggalkan. Masa purna tugas menjadi penutup perjalanan panjang birokrasi yang telah ia jalani sejak akhir dekade 1980-an.

Sebelum menduduki jabatan asisten, Suwata dikenal luas sebagai sosok yang cukup lama berkecimpung di dunia pendidikan. Ia pernah memimpin Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Magetan selama kurang lebih 12 tahun.

Pengalaman, dinamika, hingga berbagai kebijakan yang lahir selama memimpin sektor pendidikan tersebut kini dirangkum dalam sebuah buku berjudul Cerita Suwata | Pengabdian 12 Tahun di Dunia Pendidikan Magetan.

Buku tersebut sengaja disusun sebagai penanda masa purna tugas sekaligus bentuk penghormatan terhadap dunia pendidikan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

Menariknya, Suwata justru mengawali kisahnya di dunia pendidikan dengan pandangan yang bertolak belakang dengan kondisi saat ini. Saat mendapat promosi menjadi Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PTK) pada tahun 2009, ia mengaku tidak terlalu antusias.

Buku inspiratif Cerita Suwata karya Suwata.(Ist/Lensamagetan.com)

Ia bahkan sempat memandang profesi guru sebagai pekerjaan yang relatif ringan dibandingkan pegawai pemerintah lainnya karena jam kerja yang dinilai lebih singkat.

“Guru iki gawene opo, esuk wis muleh,” kata Suwata dalam bukunya.

Pandangan tersebut perlahan berubah setelah dirinya terjun langsung menangani berbagai persoalan pendidikan di Magetan. Saat itu, jumlah guru yang telah memperoleh sertifikasi masih sangat sedikit, hanya sekitar seratus orang dari total sekitar 2.000 guru yang ada.

Kondisi tersebut mendorong Suwata untuk bekerja lebih keras agar para guru di Magetan bisa mendapatkan sertifikasi pendidik. Upaya itu terus dilakukan hingga akhirnya sebagian besar guru, khususnya yang masih muda, berhasil memperoleh sertifikasi.

Dari proses itulah, rasa kurang suka terhadap profesi guru berubah menjadi rasa hormat dan kecintaan terhadap dunia pendidikan.

Tak hanya soal sertifikasi guru, buku tersebut juga mengisahkan sejumlah program yang sempat menjadi perhatian di tingkat nasional, termasuk keberhasilan pelaksanaan program Guru Penggerak di Magetan yang mendapat perhatian dari Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Selain itu, sejumlah kebijakan lain yang lahir pada masa kepemimpinannya juga turut diabadikan dalam buku tersebut, mulai dari penerapan tata tertib sekolah, penggunaan seragam adat, hingga program beasiswa bagi mahasiswa asal Magetan.

Berbagai kesan dari rekan kerja dan mitra pendidikan juga mewarnai isi buku setebal 81 halaman tersebut.

Kepala Bidang Pemberdayaan UKM Dinas Koperasi dan UKM Magetan, Diantina Wiwied, misalnya, mengaku masih memegang teguh pesan yang pernah disampaikan Suwata selama bekerja bersama.

“Ada satu pesan Beliau, yang saya terapkan hingga sekarang, jangan merepotkan dan meminta uang pada guru,” katanya dalam buku.

Sementara itu, Owner Ceria Center Madiun, Anita Nurrul Febrianti, menilai kepedulian Suwata terhadap anak berkebutuhan khusus menjadi salah satu hal yang paling membekas selama dirinya berinteraksi dengan mantan kepala dinas tersebut.

“Saya menjalankan program terapi untuk anak berkebutuhan khusus tidak hanya di Magetan, di kota-kota lain juga. Tapi, kepala dinas yang care sekali, yang benar-benar memikirkan anak-anak itu, saya bertemu di Magetan.”

Melalui buku tersebut, Suwata berharap pengalaman dan nilai-nilai yang ia yakini selama mengabdi dapat menjadi pesan bagi generasi berikutnya untuk terus menebar kebaikan.

“Demikian juga dengan kehidupan. Jika hari ini, kita memberikan kebaikan dan kebahagiaan, maka percayalah hal itu sedang dalam perjalanan menuju kita. Teruslah menjadi sumber kebaikan, karena kebaikan itu sejatinya akan menerangi jalanmu sendiri,” katanya.

Saat ini, buku Cerita Suwata tengah memasuki proses pencetakan oleh Magetankita Books dan nantinya akan dibagikan kepada sekolah dasar serta sekolah menengah pertama di Kabupaten Magetan.(niel/red)

Tinggalkan Balasan