Surakarta (Lensamagetan.com) – Di tengah tuntutan pekerjaan, tugas kuliah, dan kebiasaan bermain ponsel hingga larut malam, semakin banyak orang mengorbankan waktu tidurnya. Padahal, dampaknya jauh lebih serius daripada sekadar mengantuk pada siang hari.
Pukul dua dini hari, layar ponsel masih menyala di banyak kamar kos. Sebagian orang terjaga karena mengejar tenggat tugas, sebagian lagi karena tak sanggup berhenti menggulir media sosial. Kebiasaan ini terlihat sepele, tetapi lambat laun membentuk pola yang oleh para ahli kesehatan disebut sebagai utang tidur. Utang itu, seperti utang pada umumnya, cepat atau lambat harus dibayar oleh tubuh.
Bukan Sekadar Mengantuk
Banyak orang menganggap kurang tidur hanya berujung pada rasa kantuk dan badan lemas keesokan harinya. Padahal, sejumlah kajian kesehatan menunjukkan bahwa dampaknya jauh lebih luas. Tidur kurang dari tujuh jam secara rutin dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, hingga gangguan kekebalan tubuh. Dari sisi kesehatan mental, kurang tidur juga erat kaitannya dengan meningkatnya kecemasan, mudah tersinggung, dan risiko depresi.
Dokter yang berpraktik di bidang kesehatan tidur biasa membedakan dua hal yang sering tertukar di masyarakat, yakni durasi tidur dan kualitas tidur. Seseorang yang tidur selama delapan jam penuh belum tentu bangun dengan bugar apabila tidurnya sering terputus. Sebaliknya, tidur dalam waktu singkat tetapi nyenyak tetap tidak bisa menggantikan kebutuhan istirahat tubuh secara keseluruhan. Kedua unsur tersebut, yakni durasi dan kualitas tidur, sama-sama menentukan seberapa pulih tubuh seseorang keesokan harinya.
Mahasiswa dan Pekerja Muda Paling Rentan
Kelompok usia produktif, termasuk mahasiswa, menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami kurang tidur. Jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, hingga kebiasaan begadang untuk mengerjakan laporan membuat waktu tidur kerap menjadi hal pertama yang dikorbankan. Sebuah survei terhadap masyarakat Indonesia bahkan menemukan bahwa lebih dari dua pertiga responden, yang sebagian besar berusia produktif, mengaku mengalami kurang tidur.
Penyebabnya pun beragam. Stres akibat tekanan akademik maupun pekerjaan tercatat sebagai faktor paling dominan, disusul gangguan lingkungan tidur, distraksi dari gawai dan media sosial, serta kebiasaan mengonsumsi minuman berkafein pada malam hari. Kombinasi faktor-faktor ini membuat waktu tidur bergeser semakin larut, sementara jam bangun tetap harus mengikuti jadwal aktivitas keesokan harinya.
Pada mahasiswa profesi kesehatan yang harus menjalani jaga malam, kondisi ini bahkan bisa berlangsung dalam waktu lama dan berulang. Sejumlah penelitian di bidang kedokteran mencatat bahwa pola tidur yang terganggu dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi metabolisme tubuh, salah satunya melalui kenaikan indeks massa tubuh (IMT), yang pada akhirnya meningkatkan risiko obesitas.
Mengembalikan Waktu Tidur yang Hilang
Meski terdengar berat, para ahli menekankan bahwa pola tidur yang sehat sebenarnya bisa diperbaiki secara bertahap. Langkah paling mendasar adalah menjaga jadwal tidur dan bangun pada jam yang konsisten setiap hari, termasuk pada akhir pekan. Tubuh manusia bekerja dengan ritme biologis yang menyukai keteraturan sehingga jam tidur yang berubah-ubah justru membuat kualitas istirahat semakin menurun.
Selain itu, kebiasaan menatap layar gawai menjelang tidur sebaiknya dikurangi karena cahaya biru dari layar dapat menghambat produksi hormon yang memicu rasa kantuk. Menjaga kamar tetap gelap dan tenang, membatasi konsumsi kafein pada sore hingga malam hari, serta menghindari aktivitas selain tidur di atas tempat tidur juga disebut dapat membantu tubuh mengenali waktu untuk beristirahat.
Yang tidak kalah penting, kurang tidur semestinya tidak lagi dipandang sebagai bukti kerja keras atau kesibukan seseorang. Anggapan tersebut justru berbahaya karena membuat banyak orang menunda perbaikan pola tidurnya hingga gangguan kesehatan benar-benar muncul. Padahal, tidur yang cukup merupakan salah satu investasi kesehatan paling murah yang bisa dilakukan siapa saja setiap malam tanpa biaya sepeser pun.
Di tengah ritme hidup yang menuntut produktivitas tanpa henti, tidur kerap dianggap sebagai kemewahan yang bisa ditunda. Padahal, semakin sering ditunda, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung tubuh di kemudian hari. Barangkali sudah saatnya masyarakat, khususnya generasi muda, mulai memandang tidur bukan sebagai waktu yang terbuang, melainkan sebagai bagian dari kesehatan yang tidak bisa ditawar.
Daftar Pustaka
Azzahra, F., & Lufiana, F. (2024). Hubungan Kualitas Tidur dengan IMT (Indeks Massa Tubuh) pada Mahasiswa Co-Assistant di RSUD Drs. H. Amri Tambunan. Jurnal Implementa Husada, 5(4), 236. https://doi.org/10.30596/jih.v5i4.21023
Surya, G. (2021, 28 Februari). Awas! Kurang Tidur Bisa Sebabkan Masalah Kesehatan, Berapa Lama Jam Tidur yang Ideal? Kompas.tv. https://www.kompas.tv/article/151162/awas-kurang-tidur-bisa-sebabkan-masalah-kesehatan-berapa-lama-jam-tidur-yang-ideal
Suryo, D. (2021, 3 Agustus). Ini Daftar Waktu Tidur yang Ideal Berdasarkan dari Rentang Usia. Kompas.tv. https://www.kompas.tv/article/198193/ini-daftar-waktu-tidur-yang-ideal-berdasarkan-dari-rentang-usia
Milenia, S. (2021, 11 November). Durasi Tidur yang Sedikit Bisa Sebabkan Penyakit? | AYO SEHAT. Kompas.tv. https://www.kompas.tv/article/231067/durasi-tidur-yang-sedikit-bisa-sebabkan-penyakit-ayo-sehat
Universitas Muhammadiyah Surakarta. (2024). Bab I Pendahuluan: Kualitas Tidur pada Masyarakat Indonesia. Eprints UMS. https://eprints.ums.ac.id/128654/2/BAB%20I.pdf
Antara News Jogja. (2026). Kumpulan Berita: Kurang Tidur. https://jogja.antaranews.com/tag/kurang-tidur
Penulis: Nadya Putri Rahayu












