Surakarta (Lensamagetan.com) – Pukul dua dini hari, seorang mahasiswa baru masih terjaga di kamar kosnya. Layar ponselnya menyala, menampilkan foto masakan ibu yang dikirim lewat pesan singkat sore tadi. Besok ada kuliah pukul tujuh pagi, tetapi matanya tak kunjung terpejam dan makan malamnya tadi hanya habis separuh. Ketika teman sekamarnya bertanya ada apa, ia menjawab pendek, “Cuma kangen rumah, kok.”
Pemandangan seperti ini mungkin terasa akrab bagi banyak perantau, dan justru di situlah persoalannya. Kalimat “cuma kangen rumah” membuat rindu rumah atau homesickness dianggap sepele, padahal kondisi ini bisa mengganggu tidur, nafsu makan, konsentrasi belajar, hingga daya tahan tubuh. Rindu rumah bukan sekadar kangen, melainkan bentuk stres yang nyata bagi kesehatan. Sudah waktunya kampus berhenti menyepelekannya dan mulai menyediakan dukungan yang layak sejak mahasiswa baru tiba.
Dianggap Wajar, Lalu Dibiarkan
Setiap musim penerimaan mahasiswa baru, ribuan anak muda pindah ke kota lain demi menempuh pendidikan tinggi. Di balik semangat menyambut dunia kampus, tidak sedikit dari mereka yang diam-diam menahan rindu pada rumah dan keluarga begitu euforia awal mereda. Sebuah riset terhadap mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Semarang mencatat bahwa sekitar 90 persen responden mengalami homesickness pada tingkat sedang, jauh lebih banyak dibandingkan mereka yang mengalaminya pada tingkat ringan, dan nyaris tidak ada yang benar-benar bebas dari perasaan tersebut.
Angka ini menunjukkan bahwa rindu rumah bukan masalah segelintir orang yang “kurang kuat”. Homesickness dipahami sebagai kondisi emosional ketika seseorang merasa rindu sekaligus tidak nyaman karena terpisah dari rumah, keluarga, atau lingkungan asalnya. Kondisi ini muncul sebagai respons terhadap perubahan lingkungan yang drastis. Memang wajar, tetapi anggapan “wajar” itulah yang sering membuatnya dibiarkan. Padahal, proses adaptasi yang belum tuntas dapat memengaruhi kepercayaan diri, nilai akademik, relasi sosial, manajemen keuangan, hingga kesehatan mental mahasiswa perantauan.
Dari Perasaan, Merembet ke Tubuh
Kembali ke mahasiswa di kamar kos tadi, begadang dan makan seadanya bukanlah kebetulan. Liputan kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyebutkan bahwa rasa rindu yang mendalam kerap memicu kesepian, kecemasan, dan gejala depresi, yang pada akhirnya mengganggu konsentrasi belajar serta menurunkan motivasi berprestasi. Apa yang tampak sebagai “sekadar kangen” bisa diam-diam menggerogoti performa akademik dari dalam.
Secara fisik, tubuh yang menahan rindu berkepanjangan juga ikut terbebani. Hal ini sejalan dengan cara tubuh merespons stres pada umumnya: jantung berdebar lebih cepat, kualitas tidur menurun karena pikiran terus tertuju pada rumah, nafsu makan menjadi tidak stabil, dan energi mental terkuras untuk memproses emosi yang belum terselesaikan. Jika berlarut-larut tanpa penanganan, rangkaian gejala ini berpotensi menurunkan daya tahan tubuh dan membuat mahasiswa lebih rentan jatuh sakit di tengah padatnya jadwal kuliah.
Penelitian Sudah Bicara, Kampus Perlu Mendengar
Sejumlah kajian ilmiah memperkuat kekhawatiran ini. Studi kualitatif yang diterbitkan dalam Jurnal Studi Islam Indonesia (JSII) menyimpulkan bahwa homesickness berdampak signifikan terhadap kesehatan mental mahasiswa rantau. Peneliti bahkan merekomendasikan agar pihak kampus dan penyedia layanan kesehatan mental menyediakan program khusus untuk membantu mahasiswa mengatasinya. Rekomendasi ini menegaskan bahwa rindu rumah semestinya ditangani melalui dukungan yang terencana, bukan sekadar dipendam masing-masing.
Sebuah kajian literatur tentang homesickness dan kesehatan mental mahasiswa perantau juga menemukan pola yang konsisten: semakin tinggi homesickness yang dialami seseorang, semakin buruk indikator kesehatan mental dan kemampuan penyesuaian dirinya di lingkungan baru. Selain itu, studi terhadap 105 mahasiswa rantau di Kota Makassar menunjukkan bahwa mahasiswa dengan gaya kelekatan tidak aman (insecure attachment) lebih rentan mengalami homesickness dibandingkan mereka yang memiliki kelekatan aman (secure attachment). Artinya, setiap mahasiswa memiliki tingkat kerentanan yang berbeda sehingga kampus tidak bisa menganggap semua orang akan baik-baik saja dengan sendirinya.
Langkah Nyata Sebelum Rindu Menjadi Beban
Rindu rumah memang bukan aib yang harus dipendam sendirian. Mahasiswa dapat menjaga rutinitas, seperti jam tidur dan jam makan, membangun koneksi sosial baru di lingkungan kuliah, tetap berkomunikasi dengan keluarga secara wajar dan tidak berlebihan, serta tidak segan mencari dukungan dari teman, dosen wali, atau layanan konseling kampus. Namun, beban ini tidak adil jika sepenuhnya dilimpahkan kepada mahasiswa.
Kampus perlu hadir, misalnya dengan memasukkan topik adaptasi dan kesehatan mental ke dalam masa orientasi, memastikan layanan konseling mudah dijangkau, serta melatih dosen wali agar peka terhadap tanda-tanda mahasiswa yang kesulitan beradaptasi.
Pada akhirnya, mahasiswa di kamar kos pukul dua dini hari tadi tidak membutuhkan nasihat untuk “lebih kuat”. Ia membutuhkan lingkungan yang mau mengakui bahwa rindunya nyata dan bisa dikelola. Kampus, keluarga, dan mahasiswa memiliki peran masing-masing agar proses adaptasi jauh dari rumah tidak berubah menjadi beban kesehatan yang dipendam diam-diam.
Daftar Pustaka
Afrilia, D., & Fuad, M. (2024). Pengaruh Homesickness terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa Rantau. Jurnal Studi Islam Indonesia (JSII), 2(1), 176–188.
Hubungan Homesickness dengan Kesehatan Mental Mahasiswa Perantau: Studi Literatur. (2025). RISOMA: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan, 4(4), 49–57.
Jurnal Psikologi Talenta Mahasiswa. (2022). Homesickness Ditinjau dari Gaya Kelekatan Secure dan Insecure pada Mahasiswa Rantau, 2(1).
Gambaran Homesickness pada Mahasiswa Baru. Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental.
ITS News. Fenomena Homesick Menjadi Tantangan Emosional Mahasiswa Baru. Diakses dari situs resmi ITS, its.ac.id.
Nama: Novia Puji Astuti
NIM: P27228026039
Kelas: D3 OT A Tk. 1












