Opini  

Jejak Kompetensi di Griya Solopos: Sebuah Perjalanan Menempa Diri

Pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tanggal 25-25 April 2026, di Griya Solopos, Surakarta, Solo, Jawa Tengah.(Anton/Lensamagetan.com)

SURAKARTA (Lensamagetan.com) – Ada sebuah ketegangan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata saat kaki melangkah memasuki lantai dua Griya Solopos, Surakarta, Solo, Jawa Tengah. Bagi seorang jurnalis, momen Sabtu dan Minggu, 25-26 April 2026 itu bukan sekadar akhir pekan biasa. Itu adalah palu godam yang akan menentukan apakah kita sekadar penulis berita, atau seorang profesional yang diakui negara.

Perjalanan meraih predikat Wartawan Madya ini dimulai bahkan sebelum mesin mobil dinyalakan menuju Solo.

Semuanya bermula pada Kamis (23/4/2026) melalui layar monitor. Pra-UKW daring yang diikuti 22 peserta dari berbagai jenjang itu sempat dibalut suasana mencekam. Nama Rini Yustiningsih, Pemimpin Redaksi Solopos, muncul sebagai narasumber. Di kalangan jurnalis, nama itu adalah sinonim dari kedisiplinan tingkat tinggi, ketegasan yang tak bisa ditawar, dan tatapan tajam yang sanggup menguliti setiap kesalahan dalam draf berita.

“Untungnya, Mbak Rini hanya membuka acara dan mengisi sesi daring. Beliau tidak menjadi penguji langsung kali ini,” kenang saya dengan embusan napas lega yang sempat tertahan. Namun, lega itu hanya sesaat, karena ujian sesungguhnya baru akan dimulai.

Sabtu pagi, jarum jam baru menunjuk angka lima. Saat Magetan masih berselimut kabut, saya dan seorang rekan sudah membelah jalanan menuju Jawa Tengah. Perjalanan dua jam terasa begitu cepat, mungkin karena adrenalin sudah mengalir lebih dulu sebelum kami sampai di Surakarta.

Sarapan di pinggir jalan dekat Griya Solopos menjadi “perjamuan terakhir” sebelum kami menyerahkan pikiran dan tenaga untuk dikuras habis. Di sana, di meja kaca sederhana itu, saya bertemu kawan-kawan seperjuangan dari Nganjuk, Madiun, Ngawi, Banyuwangi, Bali, bahkan ada yang terbang jauh dari Balikpapan. Kami semua membawa satu misi yang sama, yakni pulang dengan predikat Kompeten.

Di jenjang Madya, saya berhadapan dengan Ayu Prawitasari. Beliau adalah sosok penguji yang sabar, namun di balik kesabarannya, tersimpan standar disiplin yang amat ketat.

Hari pertama adalah marathon intelektual. Mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, kami dicecar soal penerapan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), hukum pers, hingga simulasi rapat redaksi yang menguras emosi. Tidak ada waktu untuk bersantai, setiap jawaban langsung dikoreksi dan dinilai di tempat. Asesor seperti detektif yang mencari celah dalam logika kejurnalistikan kami.

Malam harinya, lelah itu nyata. Saya bersama dua rekan lainnya memilih kamar triple bed di sebuah hotel dekat lokasi. Di atas kasur yang empuk, kami tidak langsung tidur. Kami berdiskusi, saling mengoreksi, dan berbagi kecemasan tentang hari kedua yang diprediksi akan lebih berat.

Minggu (26/4/2026) adalah “babak final”. Kami diminta mengikuti rilis pers, membuat resume, hingga menyusun berita feature. Tak berhenti di situ, sebagai calon Wartawan Madya, kami harus menunjukkan taring dalam menyunting berita dan mengikuti rapat redaksi bersama jenjang Utama, untuk mendiskusikan rencana berita yang akan tanyang.

Pikiran benar-benar diperas habis. Setiap kata yang diketik harus memiliki makna, setiap kebijakan redaksi yang diambil juga harus memiliki dasar yang kuat.

Pukul 16.00 WIB, suasana ruangan mendadak hening. Hasil akhir diumumkan. Dari 22 peserta, 20 dinyatakan kompeten, dan 2 lainnya harus berbesar hati untuk mencoba lagi di lain waktu.

Saat dari semua mata uji mendapat nilai bagus, dan penguji merekomendasi kompeten, ada rasa hangat yang menjalar di dada. Ini bukan hanya soal sertifikat dari Dewan Pers, tapi soal pembuktian diri.

“Terima kasih Griya Solopos, Mbak Rini, Mbak Ayu, Mas Beni, Mas Danang, dan seluruh mentor yang telah memberikan ‘cambukan’ ilmu yang luar biasa.”

Untuk saya sendiri “Anton Suroso” dsn rumah saya, “Lensamagetan.com”, perjalanan ini adalah kado. Kita sudah membuktikan bahwa kita hebat dan kuat. Kini, saatnya kita melangkah lebih jauh, tumbuh bersama, dan memastikan bahwa setiap informasi yang kita sajikan adalah karya jurnalistik yang bermartabat dan diakui secara profesional.

Kompetensi ini bukanlah akhir, melainkan garis start baru untuk menjadi media dan jurnalis yang lebih baik lagi.(ton)

Tinggalkan Balasan