Menjaga Jejak Leluhur di Milangasri, Tradisi Bersih Desa yang Tak Lekang oleh Waktu

Kegiatan bersih Desa Milangasri di salah satu punden leluhur.(Daniel/Lensamagetan.com)

MAGETAN (Lensamagetan.com) – Di tengah laju modernisasi yang kian pesat, Desa Milangasri, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, tetap teguh menjaga warisan leluhur melalui tradisi Bersih Desa yang rutin digelar setiap bulan Suro.

Bagi masyarakat setempat, Bersih Desa bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah jejak sejarah yang terus dirawat, menjadi pengikat nilai spiritual, sosial, sekaligus identitas budaya yang hidup dari generasi ke generasi.

Rangkaian tradisi diawali pada Jumat malam, saat seluruh perangkat desa bersama lembaga desa berkumpul di kantor desa. Dalam suasana khidmat, kirim doa dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka dan membangun desa.

Usai doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan “pagar desa”, sebuah tradisi berjalan kaki mengelilingi wilayah desa. Langkah-langkah yang menyusuri setiap sudut kampung itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbol perlindungan dan harapan agar desa senantiasa dijauhkan dari marabahaya.

Memasuki hari berikutnya, Sabtu (27/6/2026), rangkaian Bersih Desa dilanjutkan dengan ziarah ke makam para leluhur yang tersebar di sejumlah titik. Ziarah ini menjadi momen refleksi, mengingat kembali asal-usul desa serta jasa para pendahulu.

Kepala Desa Milangasri, Anggit Ardiyanto, menegaskan bahwa tradisi ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat dan harus diketahui oleh seluruh masyarakat.

“Bersih desa adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur. Dari merekalah desa ini bermula, sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga warisan ini,” ujarnya.

Lebih dari sekadar ritual, Bersih Desa juga menjadi ruang mempererat kebersamaan. Keterlibatan perangkat desa, BPD, LPM, hingga masyarakat menunjukkan bahwa nilai gotong royong masih kuat terjaga.

Dalam perspektif budaya Jawa, bulan Suro diyakini sebagai waktu yang sakral untuk membersihkan diri, baik lahir maupun batin. Di Milangasri, nilai tersebut diwujudkan dalam tradisi yang tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dihidupi dalam keseharian.

Anggit berharap, tradisi ini akan terus bertahan di tengah perubahan zaman agar senantiasa dikenang oleh generasi penerus.

“Ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga masa depan. Tradisi ini harus terus dijaga agar generasi berikutnya tetap mengenal jati dirinya,” tuturnya.

Bersih Desa Milangasri menjadi bukti bahwa sejarah tidak selalu tertulis dalam buku. Ia hidup dalam langkah warga yang mengelilingi desa, dalam doa yang dipanjatkan bersama, dan dalam komitmen menjaga warisan leluhur hingga hari ini.(niel/red)

Tinggalkan Balasan